Senin, 24 Agustus 2009

Tentang Luka


Oleh Ayah

Maafkan Ayah. Telah Ayah putuskan untuk melanjutkan hidup, tanpa hirau akan sebaris kepedihan yang tertinggal dalam lelah bola matamu. Sejujurnya Ayah iba melihat sorot tua yang mulai berpendaran tanpa bisa kaucegah. Sementara langkah letihmu masih juga terayun menyusuri jalan terjal berbatu, dengan hati tak putus memendam harap, masih akan kautemukan kemilau hari-hari terindah dalam hidupmu, pada sebuah puncak tertinggi dan hanya kau yang akan berdiri di sana.

Sungguh, tak seorangpun ingin kau terluka. Dan harusnya tak perlu ada luka, jika saja kau menyadari bahwa tak setiap harapan yang kita genggam akan berubah menjadi emas. Kerap ia hanya berwujud kepingan jelaga yang menyisakan legam pada setiap buku jemari. Tapi apalah arti semua teriakan yang mengingatkanmu agar tak terlalu kencang berlari, sebab kau telanjur mabuk impian. Hingga seperti inilah jadinya. Kau terluka. Luka yang kini membuat tatapanmu selalu buram. Pun setiapkali menatap Ayah. Sangat pedih dan Ayah bisa merasakannya. Entah dengan apa kau bisa menyembuhkannya. Mungkin akan terasa lebih pedih buatmu sebab kini Ayah telah bisa mengikisnya, dengan sebuah keyakinan bahwa Ayah memang tak perlu menjadi bagian dari luka yang kauciptakan sendiri untuk hidupmu. Ayah bukan siapa-siapa bagimu. Dan memang beginilah seharusnya.

Maafkan Ayah. Selama ini Ayah kerap melontarkan keinginan-keinginan, yang mungkin tak kausadari bahwa itu semua hanya Ayah siapkan untuk bisa lebih mengenalmu. Memastikan bahwa Ayah tak sekadar berprasangka tentang luka itu. Tentu saja, menjadi tak bermakna apa-apa bagi Ayah ketika kau membanting semua keinginan Ayah begitu saja. Ayah malah semakin yakin, sesuatu memang telah terjadi dalam hidupmu. Percayalah, Ayah turut prihatin. Tapi apa yang bisa Ayah lakukan untuk menolongmu? Sementara nyata sekali kau tak berniat menyembuhkan luka itu, bahkan seolah ingin menyempurnakannya. Jika ini pilihan terindah bagimu, bukankah sebaiknya Ayah tak perlu mencegahnya?

Maafkan, Ayah telah menemukan jalan. Langkah Ayah hanya akan bermuara pada satu titik bernama kenyamanan hidup. Dan jalur yang kita tempuh mungkin berbeda. Ayah tak butuh ketinggian untuk sebentuk kebahagiaan. Sebab di sini pun, di tempat landai Ayah telah mendapatkan semua yang ingin Ayah capai.

Maafkan Ayah. Tak hendak berkorban untukmu. Salah dan benar biarlah menemukan tempatnya sendiri. Sekali lagi, Ayah hanya akan melakukan sesuatu yang membuat Ayah nyaman. Dan tak ada yang perlu disesalkan jika pilihan Ayah ini tak membahagiakanmu.

Terima kasih telah kauhadapkan Ayah pada banyak situasi sekusut benang. Satu hal mungkin kau belum tahu. Selama ini tanpa Ayah sadari Ayah justru banyak belajar dari setiap kesulitan yang Ayah hadapi, termasuk dari luka-luka yang kauciptakan. Sekali lagi terima kasih telah kaubuat Ayah semakin tegar dengan itu semua. Semoga kau pun segera menemukan apa yang kaucari. Jika mungkin, tanpa meninggalkan luka lagi bagi siapapun. Namun jika tidak, maafkan Ayah. Ayah hanya bisa menghela napas panjang untukmu…

1 komentar:

Noor's blog (inside of me) mengatakan...

Selamat siang...mau numpang untuk mampir dan ucapkan salam kenal..