Selasa, 21 Juli 2009

Sajak: Sajak Picisan


Oleh Ayah

I
Masih saja kudengar kau bicara tentang kesunyian
rasa gamang tak putus berakar menjajah batinmu
belum cukup sakitkah luka-luka yang terhunjam
dalam tiap jengkal langkahmu
belum cukupkah waktu untukmu memangkas sangsi
ini hidup terlalu jujur kaukhianati tanpa perasaan

bukankah esok belum tentu milikmu
26.01.08, 15:15:40

II
Sekaranglah waktumu ucap selamat tinggal pada segenap dusta
sentuh hatimu sebab tlah lama ia menahan tangis tak kau acuhkan
sekarang, meski sangat pahit
26.01.08, 15:28:00

III
Tak perlu memang menerjemahkan bahasa tubuh dengan kamus
percintaan terpuitis
bukankah semua telah jelas terbaca lewat kelembutan tak biasa?
kebimbanganmu adalah belati

21.05.07

IV
Hujan yang membadai sore itu
apakah menyadarkanmu
tangan tuhan demikian lembut menuntunmu ke jalan penuh cahaya?
Hujan yang membadai kala senja manis mengecup gigilmu
apakah menyentakkan kelambu lelapmu
roda tlah bergulir ke satu arah di mana kereta kencana
amat tak sabar membawamu pada pijar sutra peraduan biru?
Hujan yang membadai dalam kesiur angin senja kala itu
apakah membukakan mata beningmu
sekeping hati meleleh enggan melepasmu pergi, ah

19.05.07, 21.45.06

V
Kala kuundang kau menjenguk duniaku yang lengang
tersadar aku dunia yang kau cipta lebih hijau
membuatmu betah berlama-lama di dalamnya
aku tersenyum saat kau melambai tanpa menoleh lagi penuh gegas
dan pokok kaktus yang kaugenggamkan di jemariku terluka,
hari ini kutanam dekat rumpun ilalang
besok akan kusiram dengan segantang airmata semalam
agar tumbuh merimba dan menaungi kesunyianku yang kekal
pergi kunang-kunang jauh ke surga.
18.05.07, 15.06.58

VI
Nyeri yang kaurasa ketika pucuk-pucuk asamu terpangkas deru halilintar
apakah kan kau biar hingga ulu hatimu lebam bernanah
lihat aku bahkan jemariku masih bergetar
menyumbat perih yang entah kapan meleleh
tapi langkahku tak putus menyemai benih pelangi pada garis batas cakrawala
yang buram ditirai kabut.

14.05.07, 21.44.09

VII
Bilang kepada malam
kala sesiangan menggali bumi tak kautemukan umbi
di mana mencari tempat baru yang menjanjikan
laparku butuh tenaga untuk melanjutkan mimpi yang terpenggal
ketika badai merah mencabik kelabu hatiku
sekerat saja umbi berair sepekat susu
di mana kesadaran semakin gentar dibakar sunyi rembang pagi.

02.05.07, 16.50.42

VIII
Terima kasih tlah kauajari aku
menikmati gemuruh rasa dalam diam
berbagi kisah hanya lewat mata
dan segalanya menjadi jelas
kita memang tak butuh kata-kata
30.03.06, 17.42

IX
Pernahkah kaupahami aku tak ubahnya sekelebat bayangan
tak jera mencumbu cahaya kala petang terjaga
pernah jugakah kau sadari tubuh renta yang tegak membisu di sini
adalah saripati akar kenanga mekar ketika senja tengadah menyapa langit
demi janji setia berselaput halilintar biru
pernahkah
jika memang tidak apa yang mesti kubaca dalam manik matamu di sana
bulan malam ini mungkin berkelana tanpa sesaat pun kita menyertainya, pedih.

14.04.07, 22.16.33

X
Bacalah hati lewat sorot mata pun geliat tubuh kala dekat
bacalah rasa lewat nada yang terlantun kala kata terucap
bacalah aku dalam tiap detik waktumu bergulir
bacalah aku dalam ruang yang acapkali tersesak kabut
bacalah
segera

jika ingin aku milikmu.
24.02.07, 23.05.19

Cerpen Misteri: Sebilah Kenangan

Oleh Ayah

Halaman plaza Malang. Sesosok gadis berkelebat. Aku mengenalnya. Sangat!
“Titis…!” Aku mengejarnya. Aku harus memastikan dia benar-benar Titis. Teman kecilku!
Titis berlalu seperti angin, lenyap di kerumunan pejalan kaki. Tanpa bekas. Kutatap angkot yang menaikkan penumpang, tak ada Titis di sana. Masuk ke toko terdekat? Juga tak ada. Lantas ke mana perginya Titis?!
“Ngapain kamu lari-lari?!” Bram, adik ibuku muncul dari belakang. Aku biasa memanggilnya Bram saja karena usia kami hanya terpaut empat tahun. Kami sangat akrab.
“Ada Titis.” Napasku masih memburu.
“Mana?!” Bram celingukan.
“Hilang.”
“Hilang?!” Kening Bram berkerut.
“Di belokan ini. Aneh. Padahal jarak aku sama dia dekat sekali.”
“Masak sih?!” bengong Bram, “halusinasi kali kamu.”
“Nggak!”
Aku masih penasaran, tapi sengatan matahari terlalu garang. Kami pulang. Rasa kecewa menimbun dadaku. Akankah liburan kali ini berakhir menyenangkan?
Kekecewaan dimulai sejam setelah kakiku menginjak kota ini tiga hari lalu. Saat itu jam sembilan pagi. Bram mengabarkan: Titis pindah rumah. Aku kaget. Sehari sebelum terbang ke Malang, kami masih bercanda lewat telefon, seperti hari-hari sebelumnya. Tidak membahas rencana pindah rumah atau perpisahan.


Senin, 13 Juli 2009

Bukan Dongeng



Oleh Ayah

Shinta, Ayah bagi catatan ini buatmu. Bacalah dengan hatimu!

Selanjutnya, inilah curahan hati Rama...

Maaf Shinta. Harus kulakukan ini semua, meski pedih. Sebab aku tak ingin kehidupan meneriakkan caci maki atas ketidakadilan yang kulakukan.
Dongeng tentang Pemuda Sederhana dan Putri Raja memang hanya ada dalam kerajaan khayalan di negeri antah berantah. Di planet yang kita pijak, bumi yang kain hari kian gersang ini, yang ada hanyalah kisah-kisah nyata tentang harta, kasta dan tahta. Putri Raja tetaplah Putri Raja yang bisa leluasa mengangkat jemari tangannya untuk menentukan pilihan. Sedangkan Pemuda Sederhana, suka atau tidak, harus menorehkan kisah-kisah hidupnya pada lembar berbeda. Dan, tentu saja, andai aku Pemuda Sederhana dalam kisah itu, aku pasti dengan lapang hati menyusun kata demi kata untuk kujadikan sebuah kitab yang akan kugenggam erat penuh kebanggaan.
Sebagai Pemuda Sederhana hidupku sangat bermakna, setidaknya buat diriku sendiri.

Namun waktu juga menjelaskan ternyata aku bermakna juga buat setiap orang yang menyayangiku. Sebagai Pemuda Sederhana aku tak pernah merasa lahir percuma ke dunia ini. Kehidupan dengan segala pernik kisahnya telah menempaku menjadi sosok yang tak perlu merasa sebagai garis kecil di tengah carut-marut garis aneka warna dalam kanvas sejarah. Kujalani setiap detik dengan tak henti merasa bahwa aku hidup. Aku tidak perlu merasa mati hanya karena lahir sebagai sebuah noktah yang tak terlihat oleh mata semua orang. Begitu pentingnya diriku bagiku, Shinta. Karena itulah, aku harus tetap hidup. Meski akhir yang kautawarkan sebagai penutup kisah yang kita tulis bersama terasa menyesakkan bahkan nyaris membuatku henti bernapas.
Tapi untunglah, pekik keras yang bertebaran di sekelilingku segera membangunkanku kembali. Aku sadar, hampir saja aku berbuat tak adil kepada hidup.
Ya, Shinta. Aku harus adil kepada hidup. Banyak hal menunggu sentuhanku, dan aku tak akan membiarkan mereka terlalu lama menunggu. Dan aku bisa memastikan sekarang. Bahwa episode yang telah kauciptakan endingnya benar-benar berakhir di sini. Tak mungkinkah menambah satu episode lagi agar ending yang tak menyenangkan itu bisa diperbaiki? Jika pertanyaan itu terlontar, maka dengan ringan akan kujawab. Ini bukan kisah layar kaca, yang harus diciptakan demi memuaskan kesenangan segelintir orang. Ini masalah hati. Biarlah cerita yang tak jelas ujung pangkalnya hanya ada di layar kaca.
Jujur, Shinta. Hingga detik ini pun masih kerap muncul rasa nyeri manakala teringat betapa kekagumanku atas dirimu tak berbuah apa-apa. Tak kaujaga hatiku, tak kauhitung seberapa pedih luka yang tersayat di sana ketika sekelebat bayanganku pun tak lagi ada dalam ruang dan waktumu. Kaubuat aku tak ada lagi di sana, setelah seberkas cahaya menerpa wajahmu dan menyilaukan pandanganmu. Ya, aku kaubuat tak ada. Sementara susah-payah kutempatkan hatimu, kutimang-timang rasamu, sampai sebutir debu pun tak kubiarkan singgah. Aku kaubuat lenyap begitu saja sebab cahaya itu begitu terang memukaumu. Lalu kau terhisap hingga sepotong hati yang sebelumnya kaugenggam erat tercampak begitu saja, jatuh menghantam bumi, dengan luka-luka memerah dan berdarah. Itukah caramu mencintaiku? Tak perlu kaujawab sekarang, sebab cahaya itu mungkin masih menyilaukanmu. Dan jangan juga kaujawab meski seandainya cahaya itu meredup dan tanpa seucap kata menjauh darimu. Jawab saja kelak ketika kau sadar dan menemukan kepastian sesungguhnya aku berharga atau tidak bagimu!
Sekarang biarlah begini adanya. Aku dengan kemesraanku bersama sisi-sisi lain kehidupan yang nyaris kuabaikan. Bagian-bagian yang kusadari kemudian tak kalah berharga dari sisi yang kemarin kulewatkan bersamamu.
Aku tak perlu menganggapmu hantu yang menakutkan dan harus kuhindari. Tidak. Aku tak senaif itu. Ada atau tidak ada kau dalam tiap detik yang kulalui, kubuat tidak lagi penting bagiku. Bicaralah ketika kau ingin bicara. Sama seperti aku menyapamu ketika mata kita bertaut. Aku hanya akan berpikir, barangkali saja episode baru yang tak berkait dengan episode yang lalu itu, sanggup membuahkan kesan yang berbeda. Kesan yang kupastikan tak akan sanggup menggugahku kembali akan geliat kisah masa silam. Selebihnya, kau bergeraklah dengan hatimu. Sedangkan aku, hari ini telah kuayun langkah kesekian untuk melanjutkan hidupku.
Jika aku boleh sedikit berucap padamu. Aku hanya punya sebuah pertanyaan. Cahaya macam apakah yang kaubutuhkan untuk menemanimu melangkah? Kau perlu menentukannya sebelum langkah benar-benar kauayun. Jadikan aku sebagai pelajaran berharga. Belajar tentang hati, rasa dan luka, agar kelak tak perlu lagi ada aku-aku berikutnya. Agar kau tetap teguh bahwa cahaya yang berada di sampingmu tak akan kausirnakan kendati jutaan cahaya lain berebut menyilaukanmu.
Esok kita mungkin masih bertemu. Tapi biarlah setiap sapa dan kata yang terucap. Pun setiap tatap yang beradu hanya cukup sebagai bukti bahwa itu semua berlangsung semata dituntun oleh rasa yang mengalir dari lubuk kedewasaan kita.
Selamat malam, Shinta. Rama menyapamu di tengah kabut yang perlahan disirnakannya dengan sebuah keyakinan bahwa hidup sangatlah berharga. ( Catatan 6 November 2007, Diangkat dari curhat "Rama" )
***
(Untuk kisah yang nyaris sama, Ayah persembahkan Catatan Sederhana ini juga buat Mawar di rumah. Berhentilah menangis, Mawar. Sebab airmatamu terlalu berharga untuk menangisi sepasang mata yang melirikmu pun sekarang enggan. Menangislah, kelak. Ketika kausadari sepasang dari berpasang-pasang mata yang berebut menghampirimu ternyata menawarkan kelembutan yang jauh lebih bermakna daripada sepasang mata yang kini entah di mana. Terakhir ketika Ayah bertemu Mawar dan bertanya apa kabar, dengan senyum sedikit berkabut ia menjawab, sudah lebih baik dari hari kemarin, Yah. Ya, Mawar yang Ayah kenal selama ini memang tak perlu berubah menjadi Mawar yang layu hanya karena merasa tercampakkan. Mawar yang Ayah kenal adalah Mawar yang memiliki begitu banyak hal berharga dan selanjutnya menyadari bahwa mengasah dirinya menjadi lebih berkilau adalah sebuah keputusan bijak bagi hidupnya)

Cerpen Misteri: Ronda ( Bagian II )

Oleh Ayah

Dini hari, menjelang subuh. Pak Hasan pamit pulang, begitu pun Pak Tomo. Sedangkan Pak Juki pilih bertahan sampai terang hari nanti. Wajibnya sih memang sampai pukul empat pagi, selebihnya terserah.
“Kamu Yus?” Jodi menatap Yus yang keasyikan melawan kantuk. “Kepingin pulang juga, tapi nggak berani, kan?” ledeknya.
Pak Juki menangkap gelagat itu. Jalan dari pos ronda ke rumah Yus memang tak seberapa jauh, sekitar duaratus meter. Tapi mereka mesti melintasi kebun tebu. Gelap, sepi, tak ada orang lain. Banyak hal bisa terjadi. Binatang buas kerap muncul. Atau, mungkin, orang jahat yang mengendap-endap dari rerimbun daun tebu. Belum lagi… kehadiran Jodi. Yus bakal jadi bulan-bulanan sepanjang jalan.
“Pulang nggak?” tanya Jodi cuek.
Wajah Yus tampak berkeringat. Bimbang, tapi akhirnya menggeleng, “Aku mau menemani Pak Juki,” kata Yus.
“Sudahlah,” sambung Pak Juki. “Kalian berdua pulang saja. Nanti ada kegiatan ekstra di sekolah, kan? Setelah sholat subuh kalian bisa istirahat dulu beberapa jam.”

“Pak Juki sendirian di sini?” Yus merasa sungkan.
“Tidak apa-apa,” Pak Juki tersenyum, “lagi pula Bapak tidak ada kegiatan, paling-paling ke sawah. Sudah sana pulang.”
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Pak. Assalamualaikum…” Yus pamit.
“Waalaikum salam…”
“Mau diantar, nggak?” tanya Jodi.
“Terserah.”
“Yuk, berangkat,” ajak Jodi. Sementara Pak Juki merapikan kain sarung yang membungkus kakinya, lalu berbaring tanpa bantal.
“Ngantuk berat ya?” kata Jodi, “alot banget melangkah. Baca-baca doa, biar nggak ada aral sampai di rumah.”
Jodi ketawa melihat Yus mengerem langkah.
“Berhentilah menakuti, Jod. Kamu tega lihat aku tersiksa? Mestinya kamu bantu aku membuang rasa takut.” Yus berusaha sabar dengan ulah Jodi.
Dua puluh lima meter lagi kebun tebu bakal menyambutnya. Juga sesuatu yang dahsyat. Bersiap-siaplah!
Suara gesekan daun tebu memecah sunyi. Angin bertiup lumayan kencang. Jodi merapatkan sarung yang membungkus tubuhnya. Melirik ke sebelah, Yus terlihat tegang. Sesekali Jodi menggodanya dengan menyorotkan lampu senter ke wajahnya. Yus membalasnya dengan tonjokan di pundak Jodi. Yang ditonjok malah ngakak. Sampai pada langkah ke sekian. Mendadak Jodi berhenti melangkah. Terasa olehnya tangan Yus
mencengkeram kuat lengannya.
“Ada apa, Jod?” Yus gugup.
“Ssst…diam!” jawab Jodi, menajamkan pendengaran sambil menoleh ke kiri ke kanan. Getaran tubuh Yus yang merapat ke tubuhnya tak ia pedulikan.
Lolong anjing dari kejauhan perlahan mendekat. Jodi mendengar jelas suara itu. Angin yang tadi bergerak lambat mulai mengencang. Jodi mendongak, langit pekat, mendung makin tebal dan siap mengempas bumi. Diam-diam Jodi keder. Belum pernah ia merasakan suasana seperti ini.
“Jo..di..?!” Yus mulai menangis.
“Diam!” bentak Jodi. Rasa takut menyusup tak terelakkan.
“Aku takut,” cetus Yus terbata.
“Aku juga, bodoh!” kesal Jodi.
“Takut apaan?!” Yus pindah ke depan, memeluk tubuh Jodi erat.
“Enyah sana! Ntar kalo ada apa-apa aku kan nggak bisa lari!” gerutu Jodi.
Baru jalan beberapa langkah. Sesuatu menyambar kepala Jodi. Yus menjerit. Jodi terpelanting, senter di tangannya jatuh, untung ia segera menemukannya. Disorotnya dahan pohon mangga di dekatnya Seekor burung hantu hinggap di sana, menatap tajam ke arah Jodi. Yus ambruk ke tanah, pingsan. Jodi mengguncang-guncang tubuh yang tergolek dekat kakinya. Terdengar derap langkah kuda dari kejauhan, makin lama makin dekat. Jodi menyorotkan senter ke jalan di depannya. Tersentak. Seekor kuda putih berbadan besar berlari kencang ke arahnya. Jodi tak punya waktu untuk menghindar apalagi menyelamatkan Yus. Ia hanya meringkuk di tanah seraya menutup kepalanya dengan kedua lengan. Dan, kuda putih itu pun menerjangnya…wuuuss! Aneh, Jodi tidak terjengkang atau memekik kesakitan, melainkan tetap di tempatnya. Yang dirasakannya hanyalah sapuan angin sangat kencang menerpa tubuhnya. Jodi tak percaya. Dengan tangan gemetar disorotnya jalan di belakangnya. Tak ada kuda putih. Hanya lengang jalan dan sisa hembusan angin.
Jodi bangkit, siap berlari. Namun ingat Yus masih tergolek di tanah, ia ragu.
Jika terjadi sesuatu dengan Yus, pasti dirinya yang akan disalahkan. Sedangkan rasa takut sudah mencapai puncaknya. Satu-satunya pilihan ia bopong tubuh Yus dengan langkah tertatih.
Di tengah perjalanan, Yus siuman. Jodi lega.
“Yus, kamu kuat jalan sendiri, kan?” ucap Jodi terbata.
Yus mengangguk. Tapi Jodi merasa perlu memapahnya.
Begitu tampak rumah pertama, Jodi lega. Menit-menit menegangkan lewat, meski rasa takut belum sepenuhnya lenyap, mungkin nanti, setelah tiba di rumah dengan selamat.
Benarkah ketegangan sudah berakhir?
Belum!
Sesuatu yang lebih dahsyat tengah menunggunya. Dan Jodi sama sekali tak menyadarinya.
Tiba di depan rumah Yus, Jodi mengetuk pintu. Lama tak ada yang muncul. Yus menyandar di pagar, lemas dan kelihatan shock. Tiga kali Jodi memanggil ibunya Yus, masih sunyi. Sekali lagi Jodi mengetuk pintu agak keras. Barulah ada langkah mendekat. Pintu berderit. Seraut wajah kusut muncul di ambang pintu.
Jodi menjerit. Serasa disambar petir!
“Y…Yus…?!” desisnya, “k..kamu…Yus?!”
“Kamu kenapa sih?” Yus merinding, “mau nakutin aku lagi?”
“Enggak…Yus…”
“Lantas ngapain gedor-gedor rumah orang? Kamu tau kan kami lagi tidur?”
“Yus…”
“Apa? Kamu ngiri aku berani bolos ronda?”
“Bolos?!”
“Iya, terus kenapa? Pak RT marah? Biarin! Aku lebih suka dihukum, daripada nekat ronda tapi aku merasa nggak tenang semalaman.”
“Kamu…nggak bolos Yus. Kamu ada. Kamu…”
“Udah deh Jod mendingan kamu pulang. Aku masih ngantuk.”
“Tunggu, Yus!”
Yus telanjur mengunci pintu dan kembali ke tempat tidur. Yus tak tahu apa yang sedang terjadi pada Jodi di luar.
Jodi melirik ke pagar, di mana Yus menyandar. Kosong, tak ada siapa-siapa. Tapi Jodi bisa merasakan kehadiran sesuatu di belakangnya, selangkah saja. Hembusan hawa dingin menerpa tengkuknya. Pendengarannya menangkap lenguh kesakitan yang tertahan di kerongkongan. Sesaat ia baru sadar, angin yang bertiup pelan di sekitarnya membawa aroma anyir menyengat.

Cerpen Misteri: Ronda ( Bagian I )

Oleh Ayah


Yus berdiri tegak di depan cermin. Menangis.
Aku laki-laki! Mestinya aku bisa membuktikan kepada semua orang bahwa aku bukan cowok penakut. Aku berani menghadapi situasi apapun.
Yus kerap menyesali kenyataan dirinya. Ia tumbuh menjadi seperti ini tak lain karena sejak kecil orang-orang di sekelilingnya selalu menciptakan situasi di mana Yus terus-menerus merasa takut. Yus, jangan keluar ada momok. Awas kalau nangis nanti akan didatangi setan pocong. Dan sederet cerita seram lainnya. Tanpa disadari itu semua justru memupuknya menjadi seorang penakut. Apa-apa serba takut.
Malam ini Yus harus menjalankan sebuah tugas. Demi kecintaan kepada ayah ia harus belajar membunuh rasa takut terhadap hal-hal yang belum tentu akan benar-benar terjadi. Juga rasa tanggung jawab sebagai warga kampung. Malam yang sangat berat bagi Yus. Terlebih setelah siang tadi terjadi peristiwa berdarah. Seorang pemuda tewas dalam sebuah kecelakaan di salah satu perempatan tak jauh dari rumah Yus. Sedetikpun Yus tak berani melongok kejadian itu. Sampai muncul desas-desus miring, korban tewas akibat kecelakaan biasanya jadi hantu. Hiiy…bulu kuduk Yus berdiri. Mungkin sudah suratan nasib Yus harus mengemban tugas ronda malam minggu ini menggantikan ayah yang sedang terbaring sakit.

Minggu, 12 Juli 2009

Sajak: Sendawa Matahari

Oleh Ayah

Ceritamu
tentang matahari bersendawa
menyaksikan bumi
terkelupas habis
sungguh menggirangkan hati
ah ternyata benar
kiamat sudah tak malu lagi
tebar pesona

04 Mei 07, 20.58.09

Yang Nyaris Hilang, Mutiara

Oleh Ayah

Tahukah kau, Mutiara. Cerita-cerita miris yang mengalir tanpa henti tentangmu adalah tamparan paling keras yang meremukkan sendi-sendi kebanggaan yang telah Ayah bangun untukmu. Kebanggaan itu, Mutiara, Ayah bangun dengan segenap keyakinan bahwa suatu saat kelak kau pasti mampu mengibarkan bendera kemenangan dan membuat setiap pasang mata yang melihatmu bertepuk girang penuh sanjung untukmu. Namamu akan tergurat jelas di bentang luas cakrawala dan akan dibaca semua orang sepanjang masa. Kenangan manis tentangmu akan senantiasa hidup bersama denyut nadi waktu. Tapi coba kau lihat sekarang, mutiara. Cerita-cerita miris yang bergulir satu demi satu tanpa bisa ditahan itu, telah menggerus tiang-tiang kukuh penopang kebanggaan, dan perlahan ia merapuh. Apa yang terjadi padamu?

Selalu, tanpa henti, Ayah ingatkan kau untuk berjuang agar mata batinmu senantiasa terang tak tertutup oleh segala yang tersaji di sekelilingmu. Selalu, tanpa henti, Ayah berupaya mengalirkan kekuatan agar kau tetap berteguh hati dan tak larut dalam keinginan untuk terus-menerus mengeja nasib yang mengungkungmu. Dan kelak kau bisa menyadari bahwa memang tak perlu berhitung lagi tentang keadilan Tuhan kepadamu. Cinta tak pernah berpaling darimu, Mutiara. Kekecewaan yang kaumanjakanlah yang membuat seolah-olah cinta menjauh dan enggan bercengkerama denganmu. Ini, Mutiara, buah dari luka-luka yang kaubiarkan tertimbun dalam lubuk hatimu. Selama ini kauciptakan kesan seolah-olah semua telah termuntahkan. Tak putus kauukir senyum termanis untuk meyakinkan semua orang bahwa sebutir mutiara ini telah mengilat dan menampakkan pesonanya. Apa yang terjadi padamu, Mutiara? Apakah semua celah dalam hatimu benar-benar telah tertutup rasa putus asa?


Rasanya belum lama ya, Mutiara. Saat kau dan teman-temanmu menyimak cerita Ayah tentang dunia kanak-kanak yang indah. Dunia yang berjalan seiring waktu dan suatu ketika akan pergi meninggalkan kita, sebab di depan telah menunggu dunia yang sama sekali berbeda. Masih tergambar jelas dalam ingatan Ayah binar kedua bola matamu merekam setiap kata yang tercetus dari bibirku. Masih terngiang riang suaramu manakala sekalimat dua kalimat menggelitik simpul saraf tawamu. Ya, kau memang terlihat begitu ingin menikmatinya. Dan itu cukup melegakan Ayah.

Seolah baru kemarin Ayah dengar dari bibirmu cetusan harapan tentang indahnya masa depan. Juga keinginan untuk tetap bersama teman-teman sebab kausadari itu semua adalah bagian yang amat indah untuk terus kaunikmati. Adalah pilihan tepat membuat kemudaanmu tak terbujuk untuk melompati masa yang belum saatnya kaupijak. Toh, perjalanan sang waktu kelak akan mengantarmu juga ke sana.

Tapi sekarang? Suara polos yang semestinya masih membahana telah sirna terberangus badai hitam. Terjebak dalam tubuh mungilmu ruh api yang menjilat-jilat dan menghanguskan kesadaran kanak-kanakmu. Tak sadarkah kau Mutiara, saat ini kau begitu mencemaskan?

Cobalah kauhitung, Mutiara. Berapa banyakkah orang yang mengagumi anugerah kecerdasan dalam balutan parasmu yang menawan itu? Berapa banyak pula orang yang menyebutmu sebagai keajaiban di tengah ribuan kemanjaan di sekitarmu. Dalam dirimu terdapat banyak hal yang tidak dimiliki orang lain bahkan yang berusia lebih darimu. Jika kemarin waktumu selalu kaubawa dalam genggaman erat semata untuk membuktikan bahwa kekaguman mereka amat berharga bagimu. Mengapa sekarang waktumu lebih kerap berlabuh di tempat-tempat yang tak ramah padamu?

Apa yang kaumaknai sebagai kesenangan itu sesungguhnya cuma semu, Mutiara. Lihat teman-temanmu. Apa yang mereka lakukan ketika kau lebih memilih asyik dengan kesenangan di sana? Mereka tengah menikmati keriangan kanak-kanaknya. Mungkin sesekali mereka takut dengan jari telunjuk ayah bunda yang teracung dalam sorot mata tegas. Namun bukankah yang demikian jauh lebih cantik, daripada pilihan yang memaksa jari telunjuk itu tak sekadar teracung, melainkan singgah pada tempat-tempat yang semestinya menerima sentuhan penuh kasih sayang.

Dengar, Mutiara. Dengarlah tak hanya dengan telinga, tetapi juga dengan hatimu, dalam kesadaran yang terbebas dari selubung kabut pekat. Semua yang kaulakukan hingga hari ini adalah sebuah pertaruhan mahal. Jika kekalahan yang kaudapatkan nanti, bukan hanya kau yang merasakan pedihnya, semua orang yang menyayangi dan berharap sesuatu yang terindah darimu, juga akan merasakannya. Dan kenyataan itu akan terbawa selama-lamanya. Tak ada mesin waktu yang akan mengantarmu mengembalikan penyesalan.

Karena itu, Mutiara. Bangkitlah! Akan menjadi kemenangan paling mengesankan sepanjang hidupmu, manakala kau mampu mengangkat dirimu kembali ke dunia kanak-kanak yang telah sekian lama merindukan kehadiranmu. Banyak teman menunggumu di sana, untuk berbagi cerita, tawa canda serta kesenangan-kesenangan polos lainnya. Yakinkan dirimu bahwa kau adalah sebutir mutiara yang warna-wani sinarnya mendamaikan setiap orang yang menyayangimu. Biarkan kebanggaan mereka terhadapmu terus mekar dan berbuah manis.

Masih ada waktu, Mutiara. Kau memang telah kehilangan ribuan menit dalam kesia-siaan. Tapi tataplah ke depan, jutaan menit lainnya siap merangkul dan menyertai ke mana langkah indahmu menuju. Berjuanglah. Sebutir benih yang kini Ayah semaikan dalam hati Ayah adalah kerinduan suatu ketika nanti melihatmu melantunkan baris-barik lirik berikut dengan senyum termanis…

Akulah mutiara itu
dalam relung palung bumi
menghimpun rupa-rupa sinar
agar kelam yang menyesakkan
di atas sana
merengkuh hadirku nanti
penuh kehangatan
inilah janjiku pada hidup

Minggu, 24 Juni 2007, Pk.15.30

Sajak: Suara Luka

Oleh Ayah

Dengan apa kau pagari
hatimu meronta
sampai-sampai luka

tercipta tak tersembunyikan?
ini dunia sayang
segala tampak tak perlu lagi

tempat menghilang
segala terdengar
hanya butuh telinga
yang takkan pekak
meski teriakannya meluluhkan
batu-batu gunung
sekarang sayang
membuang semua ngilu tanpa syarat


21 Mei 2007, 22.23.33

Jumat, 10 Juli 2009

Karnaval Hati

Oleh Ayah

Begini aku
demi hanya cinta.
maka ketika mata anak-anakku
berbinar menatap hal tak biasa ini
keyakinanku mekar
ini tak buruk serupa orang lain berkata
sebab buah hatiku tak boleh dibiarkan
sendiri
maaf nak
baru sekarang menyadari

Binar mata kalian
t'lah hanguskan kesombongan bapak

Jumat, 10 Juli 2009, dini hari