Senin, 28 September 2009

Sisa Libur

Libur panjang selalu menjadi siksaan tersendiri bagiku. Menjemukan. Hidup jadi terasa kurang dinamis. Tinggal dua hari, namun waktu terasa berhenti berdetak. Nggak krasan banget di rumah. Sudah kucoba mengalihkan perhatian dengan beragam kegiatan, tapi tetap saja kerinduan untuk segera bertemu dengan ratusan siswa tak bisa dibendung. Celoteh mereka, keriangan mereka, selalu menjadi pemandangan yang mengasyikkan untuk ditatap setiap saat. Hidup terasa lebih berwarna. Kebandelan sebagian mereka, pun kemanjaan yang tiba-tiba muncul seolah aku sahabat atau orangtuanya, sungguh sangat mengesankan.

Ironis sih, saat mengingat, dulu, sekian tahun lalu, ketika kali pertama tawaran untuk mengajar mampir padaku, aku menanggapi dengan sikap acuh tak acuh. Mengajar?! Jadi guru?! Aku yang selengekan, semaunya, tiba-tiba harus berubah menjadi sosok serius dengan dandanan super rapi. Belum lagi beragam aturan yang pasti akan menyesakkan lantaran sebelumnya aku tak biasa diikat-ikat dengan aturan-aturan baku dalam menjalani hidup. Bisa nggak ya??? Pertanyaan besar itu berakhir pada penolakan tegas. Tidak! Aku belum sanggup berubah menjadi sosok lain. Aku menyebut sosok lain karena saat itu aku merasa -dengan sombongnya- bahwa aku telah menjadi diriku sendiri.

Entah kenapa, dan bagaimana mulanya, tahu-tahu setahun kemudian, kesombonganku runtuh. Tanpa pikir dua kali tawaran langsung kuterima. Lalu, ajaib, hari-hariku berubah total. Anehnya, segala macam aturan yang sebelumnya sempat membuatku ngeri mendadak bisa kucerna begitu saja dengan sangat nyaman. Sempat heran pada diriku sendiri. Kok bisa?!

Waktu kemudian menyadarkanku, dunia baru yang kupijak ternyata lebih indah daripada dunia yang kupijak sebelumnya. Ada ribuan cerita lahir dari jutaan detik yang kulalui bersama ratusan wajah polos. Sangat indah! Keindahan yang tak akan pernah kulepaskan sebab bersama mereka aku belajar banyak hal. Mereka telah mendewasakanku. Mereka telah menyita seluruh kerinduanku saat sepi liburan mendera batinku.

Aku tahu, bagi mereka liburan adalah saat yang paling menyenangkan karena bisa terbebas dari rutinitas yang acapkali menjemukan, setidaknya hal ini pernah kualami ketika dulu jadi siswa. Kalau kami sama-sama berdoa, betapa doa-doa itu akan selalu berbenturan, hehehe... Mereka ingin libur nggak habis-habis agar waktu nyantai tetap panjang. Sementara aku ingin segera masuk sekolah agar bisa segera menjalani rutinitas yang walau -jujur- kadang terasa menjemukan namun jauh lebih banyak menyenangkan.

Ya sudahlah. Biar waktu mengalir sebagaimana adanya. Berharap ada mesin waktu yang bisa mengantar menuju masa depan dengan lebih cepat sangatlah mustahil. Yang demikian hanya ada dalam kisah-kisah fantasi.

Ok, met habiskan libur, anak-anakku. Nikmati. Di sini, Ayah juga tengah berjuang menikmati kejemuan yang terasa tak ada putusnya. Kasihan banget ya!!! Hehehe!!!

Sabtu, 26 September 2009

Sajak Waktu

Petang

Senja telah lelah
ia kini mulai membilang berapa mimpi
akan dirangkum dalam tilam damai
dan senyum lembut tersungging

Senja telah lelah
ia kini tinggal menanti janji illahi
dalam sisa harapan yang ribuan jam tersemai
bersama lantun doa
tentang matahari yang hangat
tatkala esok pagi menepuk pipi terang


Bangun Tidur

Lagi, pada kali tak terhingga
panggilan memecah hening
apakah dendang nina bobo masih menggelung
kesadaranmu

Lihat, langit di ambang rekah
sesaat lagi pendar keemasan menyapa hangat

Tunggu apa
bangkit dan basuh segala daki
dalam nama yang tak lekang sepanjang zaman
kepada siapa cinta berpulang

Ketupat Oh Ketupat!

Lebaran hari ketujuh. Di kampungku pasti ada ketupat dan sayur. Aku paling suka lepet, saudara ketupat dan sayur yang selalu dibuat bareng-bareng, penganan terbuat dari beras ketan yang dibungkus daun pisang atau janur dan diikat kuat-kuat dengan tali lalu direbus sampai matang (kasihan ya, babak belur!). Rasa gurih dan asinnya entah kenapa jadi nyaman di mulut, sederhana tapi memikat. Selalu kurindukan. Tahun ini, seperti beberapa tahun sebelumnya, emakku tidak membuat ketupat cs itu terlalu banyak, ya cukuplah untuk syukuran di mushola dan dihantar ke beberapa kerabat.

Dulu, ketika aku kecil, terasa seperti ada kompetisi ketupat. Setiap rumah membuat dalam jumlah yang cukup besar karena targetnya memang harus cukup untuk dihantar ke rumah tetangga sekampung. Malam hari aku melihat dua meja besar di rumahku penuh sesak dengan ketupat. Lalu bisa dibayangkan kemudian, betapa tragis nasibnya, dimakan sampai perut meletus pun tidak akan habis, sementara penganan macam itu tidak mungkin bisa tahan berhari-hari. Ke mana larinya? Ke kandang ayam! Memang asyik melihat sekawanan ayam berpesta pora ikut merayakan Ketupatan. Namun di sudut hati ada perasaan getir tertinggal, berapa rupiah tersia-sia! Mau dibagi kepada siapa? Lha wong setiap orang juga melihat pemandangan yang sama di rumah masing-masing. Tapi, syukurlah, tahun-tahun berikutnya warga sudah mulai memahami hal ini. Kesepakatan dibuat. Masing-masing keluarga memang masak ketupat, tapi tradisi saling hantar dihapus, yang dipertahankan hanya selamatan di mushola. Maka selamatlah sekian rupiah di kantong!

Sabtu, 19 September 2009

LEBARAN 2009

Dari Kediaman Sederhana
Ayah mengucapkan...

SELAMAT IDUL FITRI
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
SEMOGA PERSAUDARAAN KITA
ABADI...

AMIN!



Selasa, 15 September 2009

Ramadhan

Oleh Ayah

Datang lagi ya
tahun depan
selalu
kurindu
kemesraan
bersamamu

Lapar ini
haus ini
tak menyusutkan
poripori sekujur raga
tempat tiap napasku
berembus
melantun kidung cinta
kebesaran-Nya

(17.00 - 17.10)



Rabu, 02 September 2009

Ayah Main Operet

Ayah berakting pada acara Wisuda Purna Belajar dan Kenaikan Kelas, SMP-SMA Jenderal Sudirman Kalipare, Tahun Pelajaran 2008/2009.