Gambar-Gambar di Tubuh Kita

Sabtu, 16 April 2011



Jika telanjangiku membuatmu percaya diri
baiklah, silakan
gambar-gambar bernuansa gelap berjajar rapi
di tiap inci keriput kulitku
potret segera, lalu kabarkan ke penjuru dunia
maka aku 'kan terkenal dan dicari

Untukmu sendiri tentu kaubutuh
kabar-kabar menggelegar
bagi jutaan mata yang haus binal cerita

Oya, barangkali bajuku pas di badanmu
pakai saja tak apa
tapi jika takut wangi parfumku tercium di situ
ya buang sajalah
mungkin sebaiknya kau telanjang
baju yang kaujahit sepanjang masa
memang tak pernah jadi malah robek sana-sini
tapi kau pasti yakin kehebatan penata rias
poles sekujur kulitmu dengan bedak termahal
agar deret gambar di situ rapi tersembunyi

Alamak, tak penting membahas,
gambar-bambar bernuansa apa penuhi tubuhmu
tak punya waktu aku untuk itu
sedetik pun!

Read More..

Pertempuran Itu

Jumat, 15 April 2011



(:jam-jam menjelang)

Coba lihat pedangmu, lihat
tak cukup hanya tajam untuk dihunus
di hari pertempuran sengitmu nanti

Sederet ajar selalu kugelar pada tiap jeda
saat kaubasuh bercak kering darah
dari latih laga sambung menyambung
besar kecil gurat lukalukamu
adalah ujud seberapa lincah juga kautarikan senjata
dan hadang segala rintang

Bersiaplah!

Kini aku tinggal melambai
di puncak terjal gemerlap harap
demi bulir kemenangan

Tentu kau tak perlu tahu sebelah tangan di punggungku
menggenggam gemetar bendera sangsi
bagimu, yang berangkat dengan pedang berkarat

Jangan lagi tanya, aku tak tahu
segala bisa terjadi
segala bisa berubah, mencabikcabik keyakinan
apakah nanti akan ada bahu
untukmu mengisak dan lepas sesal
kala lesat tombak menancap tepat
di uluhatimu

Read More..

Medali

Kamis, 14 April 2011



Kenapa tergesa
kurasa kau perlu istirah beberapa lama
memanja diri, bukti hormatmu pada raga
coba kaudengar segala lara
dari lebam otot yang kaupaksa mengejang
entah berapa lama

Manis gula pada kental kopi pun tersia
apa lagi sepiring goreng nasi yang disangrai cinta
selalu hilang hangat

Waktu terlalu perkasa kauajak berlomba tuan
ya, tentu saja. ia tak kan pernah menua

Kalau kau merasa menang, itu salah
karena sesungguhnyalah engkau kalah
dan gemuruh sorai yang kau dengar
hanyalah pengantar kata untukmu terima
medali hitam kematian
nurani

Read More..

Testimoni Ulat Bulu

Selasa, 12 April 2011



Maaf...
jajaran jati-jati meranggas sepanjang lembah bukan dosa kami
bingung cuaca hingga siklus metamorfosis terpangkas
juga bukan sebab pasti kami naik daun kini

Bertanyalah pada hantu-hantu gentayangan
yang tak pernah takut sengat matahari
yang dari mulutnya meleleh ludah bernanah
dari leluka kunyah berjuta pohon belia

Kalian akan dengar jawaban lugas
tentang rencana peremajaan yang absurd
tentang tuli telinga dari jerit pedih kala jarum berkarat
menusukkan cairan mematikan pada kulit-kulit muda tak berdosa

Berbondong ke sini apakah kami salah
toh ketika racun merambat ke atas
seluruh daun akan mengering lalu luruh

Ketahuilah kami datang
bukan sekadar menghenti lapar
dan melepas lambai bagi sahabat yang sekarat
lebih dari itu
kali terakhir kami menatap kelok jalan yang entah
berapa lama bisa tahan
setelah akar yang teranyam kokoh sepanjang punggung
mengering punah,
ketika badai bertubi menggerusnya nanti

Selamat tinggal. biarlah kami belajar bertapa
di celah-celah lembab perut bumi
dan terima kenyataan kan menjelma apa diri kami
kupu-kupu kusam ataukah malah sosok asing tak bersayap

Read More..

Buku Kesejatian

Kamis, 17 Maret 2011



: makan bersama

Denting piring itu nyaring nak
meluruh tanya
akan bahagia
akan rindu
akan sapa penuh senda
bahwa itu semua ada
tak terbantah

Begitu dekat nak
nyaris tak berjarak
duduk pada ketinggian sama
adalah nyata
jernih kata mengalir
tentang mimpi pagi

Kita adalah sejarah yang tak butuh darah
untuk melegenda
tapi rasa, yang semayam tenang di lubuk jiwa
nyaring bicara
menampak adanya tanpa berhitung kata

Kemarin nak
adalah legenda
yang terpahat pada buku abadi
kesejatian rasa
bergambar kita biru sampulnya
melangkah menjelang terang masa

(Kalipare, 15 Maret 2011, 19:28)

Read More..

Pergi Nak?

Selasa, 08 Maret 2011

Pergi nak?
aku melihat kata itu pada manik matamu yang memerah lelah
kala berbelas jam tak kuizinkan kau lelap barang sedetikpun
demi cerita-cerita seram perjalanan matahari di bentang langit
aku hanya ingin kau tahu
bisa saja ia tak kembali esok pagi
mencahayai bumi

Pergi nak?
ah, jika itu pilihanmu
aku takut kau benar-benar kehilangan cahaya yang kaubutuh
sementara jalan yang membentang di hadapanmu terjal tak berujung

Pergi nak?
apakah doa-doaku masih kauperlu?
jika tidak
ini saja terimalah
usapan lembut pada rambutmu
barangkali menyisakan jejak
bahwa aku pernah menjadi bagian dari hari-harimu

Read More..

Percakapan Senja

Minggu, 08 Agustus 2010



Pulang nak
ia menggeleng
(kuelus rambutnya
ia tertunduk)

Nak pulang
malas yah
kau ditunggu nak
siapa
mereka
mereka siapa, kemarahan

Ada apa lagi sih nak
haruskah aku cerita lagi yah
sikapmu melukai mereka
mereka juga yah, bahkan lebih

Mereka sayang kau nak
aku juga
lalu
lalu apa yah

Kenapa kau tak mau pulang nak
karena aku selalu ingin di sini
tapi kau punya rumah
aku tak butuh rumah

Nak
ayah dengarlah, jika ruang ini tak kaurelakan, kumohon ikhlaskan sudut empermu
bicara apa kau ini
bicara jujur yah, aku sayang ayah
aku bukan ayahmu nak
jadi aku bukan anakmu
bukan begitu maksud ayah
lalu apa

Nak
ayah mau bicara darah lagi kan
nak
potong nadiku yah, kau akan tahu, tak ada lagi darah dalam tubuhku
nak
kau tahu yah dengan apa aku hidup
cukup nak
dalam tubuhku mengalir seribu kata tak mengancam darimu
nak cukup
telunjukmu yah, tak sekalipun pernah tikam bola mataku
anakku jangan lagi ucapkan itu
katakan yah, masih perlukah darah untukku bisa hidup

(Memanas lagi kelopak mataku)
baiklah ayahku
lho ke mana
pulang yah
katamu tak ingin pulang
aku harus segera pulang yah, harus, hanya agar airmata ayah tak menetes lagi


Read More..