Rabu, 30 Desember 2009

Sepeda Pancalku Versus Crown Royal Saloon



Delapan ratus juta rupiah! Dapat berapa biji kalau uang sebanyak itu semua dibelikan sepeda merek "Entah Apa" semacam kepunyaanku? Jawabannya, BANYAK! Dijajarkan di Stadion Senayan pasti penuh sesak sampai ke kursi-kursi penonton.

Delapan ratus juta rupiah! Sebagian pasti dari urunan receh ayahku sebagai pajak sepetak tanah yang sudah pasti hanya menghasilkan sekuintal-dua kuintal gabah sisa ribuan gelatik yang superjail. Dan, tentu saja hasil urunan jutaan rakyat negeri tercinta ini.

Delapan ratus juta rupiah! Biaya hidup emak dan bapakku ditambah lima anak serta sepuluh cucu, sejak mereka lahir hingga detik ini pasti belum mencapai bilangan itu. Dan, cling!, bapak-bapak berdasi dan ibu-ibu bersanggul mendapatkannya dalam bentuk mobil supermewah yang konon bikin pengendaranya tidak terganggu pulasnya meski menggasak jalan makadam. Ouw, jadi pengeeen...sebentar saja membuktikan kecanggihannya. Tapi kapan? Malam nanti dalam mimpi? Kalau muncul. Kalau tidak....

Delapan ratus juta rupiah! Delapan ratus juta rupiah! Delapan ratus juta rupiah! Benar memang "cuma" segitu nilai sebiji Crown Royal Saloon? Percaya tak percaya apa gunanya. Wong diduga 1,3 M dibantah. Ya wislah, percaya saja!

Delapan ratus juta rupiah! Ah, kenapa ya, saat mengingat jumlah itu, sepeda pancal yang kukayuh deritnya terasa makin keras menyayat-nyayat gendang telingaku, dan mengalirkan perih ke sekujur tubuhku. Lho, kok tiba-tiba aku jadi mellow?! Ah, tidak benar ini. Lupakan, lupakan, sekarang. Tidak boleh cengeng. Bukankah sebelum jumlah itu kaudengar, kau selalu menikmati derit sepeda pancalmu laksana melodi yang mendamaikan hati? Ayo, teruskan menyehatkan badan dengan terus mengayuh sejauh-jauhnya, teriak hatiku sangat lantang. Lihatlah, bahkan seorang Barrack Obama mau naik becak dengan senyum tersungging manis. Huss! itu bukan Obama betulan! protes sebelah hatiku. Oya?! Jadi?!

Jadi, lupakan Barrack Obama naik becak, lupakan Crown Royal Saloon, lupakan delapan ratus juta rupiah. Lupakan semua sebab itu tidak penting! Lantas apa yang penting? Yang penting adalah lanjutkan perjalanan hidupmu dengan sepeda pancalmu. Jangan kaubuat ia cemburu dengan berselingkuh-pikir dengan hal-hal tak penting di atas. Selesai!

Aku mengangguk-angguk dalam hening. Sekilas kulirik sepeda pancalku. Ia seolah mencibirku dengan senyum sinis melihatku gundah. Baiklah, sepeda pancalku, cintaku, maafkan aku!

2 komentar:

Munir Ardi mengatakan...

orang sederhana pada waktu dihisab nanti cepat urusannya PAk

Komunitas Blogger Malang Raya mengatakan...

Banyaj Uang banyak recehan ya Bos