Selasa, 21 Juli 2009

Sajak: Sajak Picisan


Oleh Ayah

I
Masih saja kudengar kau bicara tentang kesunyian
rasa gamang tak putus berakar menjajah batinmu
belum cukup sakitkah luka-luka yang terhunjam
dalam tiap jengkal langkahmu
belum cukupkah waktu untukmu memangkas sangsi
ini hidup terlalu jujur kaukhianati tanpa perasaan

bukankah esok belum tentu milikmu
26.01.08, 15:15:40

II
Sekaranglah waktumu ucap selamat tinggal pada segenap dusta
sentuh hatimu sebab tlah lama ia menahan tangis tak kau acuhkan
sekarang, meski sangat pahit
26.01.08, 15:28:00

III
Tak perlu memang menerjemahkan bahasa tubuh dengan kamus
percintaan terpuitis
bukankah semua telah jelas terbaca lewat kelembutan tak biasa?
kebimbanganmu adalah belati

21.05.07

IV
Hujan yang membadai sore itu
apakah menyadarkanmu
tangan tuhan demikian lembut menuntunmu ke jalan penuh cahaya?
Hujan yang membadai kala senja manis mengecup gigilmu
apakah menyentakkan kelambu lelapmu
roda tlah bergulir ke satu arah di mana kereta kencana
amat tak sabar membawamu pada pijar sutra peraduan biru?
Hujan yang membadai dalam kesiur angin senja kala itu
apakah membukakan mata beningmu
sekeping hati meleleh enggan melepasmu pergi, ah

19.05.07, 21.45.06

V
Kala kuundang kau menjenguk duniaku yang lengang
tersadar aku dunia yang kau cipta lebih hijau
membuatmu betah berlama-lama di dalamnya
aku tersenyum saat kau melambai tanpa menoleh lagi penuh gegas
dan pokok kaktus yang kaugenggamkan di jemariku terluka,
hari ini kutanam dekat rumpun ilalang
besok akan kusiram dengan segantang airmata semalam
agar tumbuh merimba dan menaungi kesunyianku yang kekal
pergi kunang-kunang jauh ke surga.
18.05.07, 15.06.58

VI
Nyeri yang kaurasa ketika pucuk-pucuk asamu terpangkas deru halilintar
apakah kan kau biar hingga ulu hatimu lebam bernanah
lihat aku bahkan jemariku masih bergetar
menyumbat perih yang entah kapan meleleh
tapi langkahku tak putus menyemai benih pelangi pada garis batas cakrawala
yang buram ditirai kabut.

14.05.07, 21.44.09

VII
Bilang kepada malam
kala sesiangan menggali bumi tak kautemukan umbi
di mana mencari tempat baru yang menjanjikan
laparku butuh tenaga untuk melanjutkan mimpi yang terpenggal
ketika badai merah mencabik kelabu hatiku
sekerat saja umbi berair sepekat susu
di mana kesadaran semakin gentar dibakar sunyi rembang pagi.

02.05.07, 16.50.42

VIII
Terima kasih tlah kauajari aku
menikmati gemuruh rasa dalam diam
berbagi kisah hanya lewat mata
dan segalanya menjadi jelas
kita memang tak butuh kata-kata
30.03.06, 17.42

IX
Pernahkah kaupahami aku tak ubahnya sekelebat bayangan
tak jera mencumbu cahaya kala petang terjaga
pernah jugakah kau sadari tubuh renta yang tegak membisu di sini
adalah saripati akar kenanga mekar ketika senja tengadah menyapa langit
demi janji setia berselaput halilintar biru
pernahkah
jika memang tidak apa yang mesti kubaca dalam manik matamu di sana
bulan malam ini mungkin berkelana tanpa sesaat pun kita menyertainya, pedih.

14.04.07, 22.16.33

X
Bacalah hati lewat sorot mata pun geliat tubuh kala dekat
bacalah rasa lewat nada yang terlantun kala kata terucap
bacalah aku dalam tiap detik waktumu bergulir
bacalah aku dalam ruang yang acapkali tersesak kabut
bacalah
segera

jika ingin aku milikmu.
24.02.07, 23.05.19

Tidak ada komentar: