Selasa, 21 Juli 2009

Cerpen Misteri: Sebilah Kenangan

Oleh Ayah

Halaman plaza Malang. Sesosok gadis berkelebat. Aku mengenalnya. Sangat!
“Titis…!” Aku mengejarnya. Aku harus memastikan dia benar-benar Titis. Teman kecilku!
Titis berlalu seperti angin, lenyap di kerumunan pejalan kaki. Tanpa bekas. Kutatap angkot yang menaikkan penumpang, tak ada Titis di sana. Masuk ke toko terdekat? Juga tak ada. Lantas ke mana perginya Titis?!
“Ngapain kamu lari-lari?!” Bram, adik ibuku muncul dari belakang. Aku biasa memanggilnya Bram saja karena usia kami hanya terpaut empat tahun. Kami sangat akrab.
“Ada Titis.” Napasku masih memburu.
“Mana?!” Bram celingukan.
“Hilang.”
“Hilang?!” Kening Bram berkerut.
“Di belokan ini. Aneh. Padahal jarak aku sama dia dekat sekali.”
“Masak sih?!” bengong Bram, “halusinasi kali kamu.”
“Nggak!”
Aku masih penasaran, tapi sengatan matahari terlalu garang. Kami pulang. Rasa kecewa menimbun dadaku. Akankah liburan kali ini berakhir menyenangkan?
Kekecewaan dimulai sejam setelah kakiku menginjak kota ini tiga hari lalu. Saat itu jam sembilan pagi. Bram mengabarkan: Titis pindah rumah. Aku kaget. Sehari sebelum terbang ke Malang, kami masih bercanda lewat telefon, seperti hari-hari sebelumnya. Tidak membahas rencana pindah rumah atau perpisahan.



Penasaran, malamnya aku ke rumah Titis, untuk membuktikan bahwa ucapan Bram salah besar. Berdiri di luar pagar menatap ke dalam, tampak sunyi. Rumah besar itu tampak seram dengan aneka pohon di halaman. Ah, masa kecil itu… Di halaman itu aku selalu memanfaatkan setiap waktu luang untuk bermain dengan Titis. Bahkan tawa kecilnya masih terngiang-ngiang sampai detik ini. Aku begitu merindukannya. Aku yakin Titis dan keluarganya masih ada di rumah itu. Lama aku menunggu. Kira-kira setengah jam kemudian, aku tersentak. Dari sisi kiri rumah, terlihat arak-arakan sejumlah orang berpakaian serba hitam, mengusung keranda. Tak ada tangisan. Hanya wajah-wajah pucat menatap kosong. Sekujur tubuhku merinding. Samar-samar lagu kematian terlantun timbul tenggelam mengiringi langkah mereka. Aku lari sekencangnya. Pulang. Eyang juga Bram bengong mendengar ceritaku. Selama ini tak pernah ada kisah seram seputar rumah itu.
***
Bram tak tahu ke mana Titis pindah rumah, dan tak sempat bertanya. Ia pikir Titis pasti memberiku kabar. Ternyata tidak. Ini janggal. Kami bersahabat sejak kecil. Sembilan tahun aku tinggal di sini. Sepeninggal eyang kakung, eyang putri kesepian dan butuh teman meramaikan rumah. Ternyata aku krasan, maka jadilah aku salah satu warga kota ini. Lulus SMP mama memintaku balik ke Jakarta. Kakakku, Katrin, kuliah ke Jogja. Sedangkan si bungsu Silvi, sepeninggal Katrin bawaannya urung-uringan terus lantaran kesepian. Abg kelas satu SMP itu memang lagi centil-centilnya, dan butuh teman curhat. Aku yang maunya terus tinggal di Malang terpaksa menyerah. Sayang adik.
Setahun sekali aku sowan ke Malang, selebihnya kontak dengan eyang putri, Bram, dan tentunya Titis, hanya terjalin via telepon. Hubungan kami baik-baik saja. Kok, bisa-bisanya Titis berlalu begitu saja. Ini yang bikin aku linglung. Terus terang aku liburan ke sini lebih banyak untuk ketemu Titis.
“Kamu jatuh cinta, Rey,” simpul Bram.
Aku cuma menghela napas panjang. Mungkin, batinku lirih.
“Tidur gih,” ujar Bram. “Aku juga mau tidur nih, besok ada kuliah pagi. Siang deh aku temani jalan-jalan lagi. Kali bisa ketemu dia.” Bram melempar selimut ke pangkuanku. Tapi mataku terus menatap jendela yang terbuka tirainya, menembus kelam jalan di depan sana.
Tengah malam. Aku membuat heboh seisi rumah. Bram yang pulas di sampingku sampai terlonjak. Mimpi buruk? Bukan. Aku belum tidur. Aku melihat bayangan Titis, mengetuki kaca jendela, wajahnya menyiratkan ketakutan.
“Masuk lewat mana?” tanya Bram. “Pintu gerbang dikunci!”
Bram benar. Ketika diperiksa, kunci masih utuh, dan tak ada tangga. Memang mustahil cewek sekalem Titis naik pagar setinggi bule jangkung itu. Lagi pula buat apa?
“Ada yang nggak beres,” simpul Bram, menatapku. Aku tahu maksudnya. Ini tentang aku. Tapi aku berusaha menahan diri meski agak tersinggung. Sampai suatu senja.
“Titis…!” Aku lompat ke halaman. Bram menjerit kesakitan kena sikut. Sejengkal dari pagar aku mematung. Perasaanku berkecamuk. Dari teras sangat jelas Titis tampak berlari ketakutan di jalan. Beberapa detik kemudian seorang pria tegap berpakaian hitam muncul memburunya. Sebuah kesimpulan meluncur deras dalam benakku: Titis dalam bahaya! Aku harus menolongnya. Namun entah kenapa kakiku serasa menancap di bumi. Hanya sanggup menatap Titis dan pria itu menghilang di remang senja. Lama aku terpaku. Sampai bahuku diguncang-guncang. Dan sebuah tamparan mendera pipiku. Aku tergeragap seolah terbangun dari sebuah mimpi menyeramkan.
“Kamu kenapa?!” bentak Bram serius.
“Ti…tis…,” jawabku gagap, “ada…yang…mengejarnya!” Kuraih pintu pagar, melesat ke luar. Bram kalah cepat. Beberapa kali aku nyaris terserempet kendaraan yang lalu lalang dalam kompleks itu dan menuai makian. Tiba di ujung jalan, sebuah mobil memasuki kompleks. Aku tak sempat mengerem langkah, terdengar decit ban bergesekan dengan aspal jalan.
“Aaaah…!”
Bram berbaring di sofa menahan nyeri, lengannya terluka. Eyang putri ngomel-ngomel sambil mengoleskan obat merah. Di ambang pintu aku menatap Bram penuh rasa bersalah. Ada apa denganku? Batinku risau. Untung sebelum tubuhku dicium moncong mobil, Bram cepat menyambarnya. Malang, Bram hilang keseimbangan lalu terjengkang. Dan, vonis pun jatuh. Aku disarankan balik ke Jakarta. tak perlu menghabiskan liburan.
Serenteng keganjilan yang terjadi padaku cukup membuat seisi rumah khawatir.
Aku tersinggung, juga kecewa dengan vonis itu. Sebagai bentuk protes aku menolak diantar Bram, toh aku ke sini juga berangkat sendiri.
“Jangan buat Eyang tambah khawatir,” eyang putri membujukku, “kamu harus diantar sampai rumah.”
“Eyang pikir Rey anak kecil apa!” protesku.
“Bukan begitu, Rey,” sambung eyang putri, “Eyang cuma ingin memastikan kamu baik-baik saja sampai di rumah.”
“Semua orang sudah menganggap Rey nggak waras, iya kan?” aku tambah meledak. “Nyesel Rey dolan ke sini!”
“Rey,” Bram angkat bicara, “Coba kamu pikir lagi. Kamu sendiri merasa aneh dengan semua yang terjadi. Pertama, kejadian di plaza Malang. Lantas, iring-iringan keranda. Ketiga, katamu Titis mengetuk jendela keras-keras padahal eyang, yang waktu itu belum tidur, nggak mendengar apa-apa. Terakhir, tadi sore, kamu melihat bayangan lelaki kekar mengejar Titis, sementara aku yang ada di situ nggak melihat apa-apa. Coba tadi aku nggak menamparmu, mungkin kamu masih melotot di halaman. Apa itu semua belum cukup menjelaskan bahwa memang terjadi sesuatu denganmu? Apa ada jaminan besok-besok selama kamu di sini nggak bakal terjadi keganjilan berikutnya?”
“Aku nggak ngerti, Bram. Tapi aku masih waras!” pekikku lantang.
“Rey, mengertilah, ini nggak bisa dibiarkan. Memang nggak ada yang menganggapmu gila kok.”
“Pokoknya aku nggak mau diantar. Kalau perlu malam ini juga aku berangkat!” Aku berlalu ke kamar. Bum! Pintu kubanting keras-keras.
***
Stasiun, pukul tiga sore. Aku berdiri menunggu kereta di tengah bising suasana. Liburan yang menyebalkan. Bikin gondok berat. Aku ngotot tak mau diantar. Tapi aku yakin eyang tak akan merelakan begitu saja, diam-diam pasti menyuruh Bram mengawasi aku dari belakang. Silakan. Asal jangan berpapasan saja. Bisa perang!
Kereta tiba. Aku buru-buru masuk mencari tempat duduk.
Mendadak ada suara-suara aneh dalam telingaku, membisiki untuk keluar dari kereta, sebelum kereta berangkat, dan sebelum segalanya menjadi terlambat. Ini tentang Titis! Sesaat aku bingung. Namun makin bingung, makin keras suara-suara itu terdengar.
Aku melompat keluar. Meninggalkan kereta yang mulai melaju.
Ke alun-alun bundar Bisik suara di telingaku. Titis dalam bahaya Cepat! Jangan sampai kau terlambat! Waktumu tak banyak!
Keluar dari stasiun, aku memilih angkot dan terbang. Tiba di sana aku tak tahu mesti berbuat apa. Pengen nangis. Pikiran rancu, antara bingung dan cemas akan keselamatan Titis.
Setengah berlari aku mengitari tempat ini. Menyapukan pandangan ke segala arah.
Di bawah sebatang pohon beringin.
Seorang gadis berdiri membelakangiku. Dengan dada berdebar aku mendekat. Sepuluh langkah lagi.
“Titis!”
Gadis itu menoleh, tercengang menatapku.
“Rey,” desisnya.
Dari arah berlawanan, beberapa langkah di depan Titis, muncul sesosok pria tegap berpakaian hitam.
Aku berhenti. Jantungku berdegup kencang.
Pria itu semakin dekat. Aku bisa melihat jelas ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Astaga…sebilah belati!
“Titis, awas!!!” teriakku seraya berlari mendekatinya.
Titis menoleh ke arah pria berpisau. Pria itu mempercepat langkahnya. Matanya mengarah tajam pada dompet di tangan Titis. Dan, belati berkilat di tangannya siap dihunjamkan.
Hanya dalam hitungan detik, aku melompat.
Belati berkilat itu pun meluncur kencang.
Lalu…
Jerit kesakitan membelah udara.
Aku mendengar tangis Titis. Kucari wajah sahabatku itu. Namun yang kutemukan hanyalah iring-iringan sejumlah orang berpakaian hitam mengusung sebuah keranda.
Sayup-sayup terdengar lagu yang pernah kudengar di depan rumah Titis tempo hari. Lagu yang terlantun sangat mengerikan…
Titis selamat. Aku mendorongnya ke samping, dan belati pria itu menghunjam dadaku tepat di jantung!
(Selesai)
Kalipare, 21 Juli 2009

Tidak ada komentar: