Selasa, 02 Februari 2010

Setitik Embun




( kepada pahlawanku )

Buku-buku yang kausemat dalam lusuh tas itu
adalah saksi mati kecintaanmu pada dunia
pagi hari, sementara embun masih malu-malu
telah kaulapangkan jalanmu
menyongsong matahari
bergerak meniti jembatan berbatu

Sedang aku di sini
masih berkelana dalam rimba keengganan
sepanjang waktu

Semburat rona yang membuncah dari parasmu
menyiratkan betapa kau mencintai aku
melebihi hidupmu sendiri
namun selalu aku membantingnya
tanpa perasaan
hingga luruh engkau
dalam kecewa maha dahsyat

Di rumah aku memang remuk tak berbentuk
tapi mestinya tak di sini di depan ketulusan
yang kaupancangkan
mestinya kupahami engkau setulusnya
dari lubuk terdalam hatiku

Akankah ada maaf
setelah semua yang kuhamburkan ini?

Esok
tatkala fajar membuka mata
aku akan datang
meraih tanganmu
untuk kucium sepuasnya
jika itu mampu menghapus segenap dosa kemarin

Di sini
gerbang suatu pagi
aku hanya ingin menangkap senyummu
penuh cinta
dan menyimpannya dalam hati
selamanya



2 komentar:

Munir Ardi mengatakan...

seluruh hati telah kudatangi hanya hatimu yang terbaik maukah hatimu menerimaku kembali, semoga

Kabasaran Soultan mengatakan...

Wow...
aku suka puisi ini