Kamis, 05 Juli 2012
Sabtu, 16 April 2011
Gambar-Gambar di Tubuh Kita
Jumat, 15 April 2011
Pertempuran Itu

(:jam-jam menjelang)
Coba lihat pedangmu, lihat
tak cukup hanya tajam untuk dihunus
di hari pertempuran sengitmu nanti
Sederet ajar selalu kugelar pada tiap jeda
saat kaubasuh bercak kering darah
dari latih laga sambung menyambung
besar kecil gurat lukalukamu
adalah ujud seberapa lincah juga kautarikan senjata
dan hadang segala rintang
Bersiaplah!
Kini aku tinggal melambai
di puncak terjal gemerlap harap
demi bulir kemenangan
Tentu kau tak perlu tahu sebelah tangan di punggungku
menggenggam gemetar bendera sangsi
bagimu, yang berangkat dengan pedang berkarat
Jangan lagi tanya, aku tak tahu
segala bisa terjadi
segala bisa berubah, mencabikcabik keyakinan
apakah nanti akan ada bahu
untukmu mengisak dan lepas sesal
kala lesat tombak menancap tepat
di uluhatimu
Kamis, 14 April 2011
Medali

Kenapa tergesa
kurasa kau perlu istirah beberapa lama
memanja diri, bukti hormatmu pada raga
coba kaudengar segala lara
dari lebam otot yang kaupaksa mengejang
entah berapa lama
Manis gula pada kental kopi pun tersia
apa lagi sepiring goreng nasi yang disangrai cinta
selalu hilang hangat
Waktu terlalu perkasa kauajak berlomba tuan
ya, tentu saja. ia tak kan pernah menua
Kalau kau merasa menang, itu salah
karena sesungguhnyalah engkau kalah
dan gemuruh sorai yang kau dengar
hanyalah pengantar kata untukmu terima
medali hitam kematian
nurani
Selasa, 12 April 2011
Testimoni Ulat Bulu

Maaf...
jajaran jati-jati meranggas sepanjang lembah bukan dosa kami
bingung cuaca hingga siklus metamorfosis terpangkas
juga bukan sebab pasti kami naik daun kini
Bertanyalah pada hantu-hantu gentayangan
yang tak pernah takut sengat matahari
yang dari mulutnya meleleh ludah bernanah
dari leluka kunyah berjuta pohon belia
Kalian akan dengar jawaban lugas
tentang rencana peremajaan yang absurd
tentang tuli telinga dari jerit pedih kala jarum berkarat
menusukkan cairan mematikan pada kulit-kulit muda tak berdosa
Berbondong ke sini apakah kami salah
toh ketika racun merambat ke atas
seluruh daun akan mengering lalu luruh
Ketahuilah kami datang
bukan sekadar menghenti lapar
dan melepas lambai bagi sahabat yang sekarat
lebih dari itu
kali terakhir kami menatap kelok jalan yang entah
berapa lama bisa tahan
setelah akar yang teranyam kokoh sepanjang punggung
mengering punah,
ketika badai bertubi menggerusnya nanti
Selamat tinggal. biarlah kami belajar bertapa
di celah-celah lembab perut bumi
dan terima kenyataan kan menjelma apa diri kami
kupu-kupu kusam ataukah malah sosok asing tak bersayap
Kamis, 17 Maret 2011
Buku Kesejatian

: makan bersama
Denting piring itu nyaring nak
meluruh tanya
akan bahagia
akan rindu
akan sapa penuh senda
bahwa itu semua ada
tak terbantah
Begitu dekat nak
nyaris tak berjarak
duduk pada ketinggian sama
adalah nyata
jernih kata mengalir
tentang mimpi pagi
Kita adalah sejarah yang tak butuh darah
untuk melegenda
tapi rasa, yang semayam tenang di lubuk jiwa
nyaring bicara
menampak adanya tanpa berhitung kata
Kemarin nak
adalah legenda
yang terpahat pada buku abadi
kesejatian rasa
bergambar kita biru sampulnya
melangkah menjelang terang masa
(Kalipare, 15 Maret 2011, 19:28)
Selasa, 08 Maret 2011
Pergi Nak?
Pergi nak?
aku melihat kata itu pada manik matamu yang memerah lelah
kala berbelas jam tak kuizinkan kau lelap barang sedetikpun
demi cerita-cerita seram perjalanan matahari di bentang langit
aku hanya ingin kau tahu
bisa saja ia tak kembali esok pagi
mencahayai bumi
Pergi nak?
ah, jika itu pilihanmu
aku takut kau benar-benar kehilangan cahaya yang kaubutuh
sementara jalan yang membentang di hadapanmu terjal tak berujung
Pergi nak?
apakah doa-doaku masih kauperlu?
jika tidak
ini saja terimalah
usapan lembut pada rambutmu
barangkali menyisakan jejak
bahwa aku pernah menjadi bagian dari hari-harimu
aku melihat kata itu pada manik matamu yang memerah lelah
kala berbelas jam tak kuizinkan kau lelap barang sedetikpun
demi cerita-cerita seram perjalanan matahari di bentang langit
aku hanya ingin kau tahu
bisa saja ia tak kembali esok pagi
mencahayai bumi
Pergi nak?
ah, jika itu pilihanmu
aku takut kau benar-benar kehilangan cahaya yang kaubutuh
sementara jalan yang membentang di hadapanmu terjal tak berujung
Pergi nak?
apakah doa-doaku masih kauperlu?
jika tidak
ini saja terimalah
usapan lembut pada rambutmu
barangkali menyisakan jejak
bahwa aku pernah menjadi bagian dari hari-harimu
Minggu, 08 Agustus 2010
Percakapan Senja

Pulang nak
ia menggeleng
(kuelus rambutnya
ia tertunduk)
Nak pulang
malas yah
kau ditunggu nak
siapa
mereka
mereka siapa, kemarahan
Ada apa lagi sih nak
haruskah aku cerita lagi yah
sikapmu melukai mereka
mereka juga yah, bahkan lebih
Mereka sayang kau nak
aku juga
lalu
lalu apa yah
Kenapa kau tak mau pulang nak
karena aku selalu ingin di sini
tapi kau punya rumah
aku tak butuh rumah
Nak
ayah dengarlah, jika ruang ini tak kaurelakan, kumohon ikhlaskan sudut empermu
bicara apa kau ini
bicara jujur yah, aku sayang ayah
aku bukan ayahmu nak
jadi aku bukan anakmu
bukan begitu maksud ayah
lalu apa
Nak
ayah mau bicara darah lagi kan
nak
potong nadiku yah, kau akan tahu, tak ada lagi darah dalam tubuhku
nak
kau tahu yah dengan apa aku hidup
cukup nak
dalam tubuhku mengalir seribu kata tak mengancam darimu
nak cukup
telunjukmu yah, tak sekalipun pernah tikam bola mataku
anakku jangan lagi ucapkan itu
katakan yah, masih perlukah darah untukku bisa hidup
(Memanas lagi kelopak mataku)
baiklah ayahku
lho ke mana
pulang yah
katamu tak ingin pulang
aku harus segera pulang yah, harus, hanya agar airmata ayah tak menetes lagi

Kamis, 27 Mei 2010
Impian-Impian Kecil
.jpg)
(Dimuat di majalah Story edisi 10, April-Mei 2010)
Kepala Fitri tertunduk. Rambutnya yang panjang legam menutupi sebagian wajahnya. Selalu, tatapan lembut ibu meluluhkan hatinya. Fitri hafal kebiasaan ibu. Beliau tak akan beranjak sebelum segalanya menjadi jelas. Perubahan sikap Fitri akhir-akhir ini sudah lebih dari cukup sebagai alasan untuk menginterogasinya. Dan, tiga hari lalu Fitri tak kuasa lagi menutupi kisah yang dipendamnya rapat-rapat. Kini ibu telah tahu semuanya. Tapi naluri seorang ibu tak bisa dibohongi. Kisah yang disimpan putri semata wayangnya itu sesungguhnya belum tuntas.
“Percayalah, Bu. Fitri sudah memaafkannya…,” urai gadis itu sendu.
“Ibu percaya,” tatap ibu dengan senyum. “Tapi salahkah kalau Ibu ingin melihat segalanya kembali seperti dulu? Sudut-sudut rumah kita sepi tanpa dia, kan?”
“Lalu Fitri harus bagaimana lagi, Bu?” gadis itu bingumg.
“Temui dia, Nak. Ketulusan hati berbuat kebaikan semoga membuahkan kebahagiaan lebih buatmu.”
Sesaat Fitri bimbang. Namun senyum lembut ibu tak henti membujuknya.
***
Minggu, 23 Mei 2010
Pesta

Pesta megah pernikahan
ala dongeng kerajaan atas langit itu
membuatku terawang-awang
terkesima
lalu terluruh bisu
Kutemukan
di tengah kelimpahan hidangan terlezat
denting-denting nyaring piring kristal
senandungkan ode bagi para papa tak berdaya
mencecap mereka tetes demi tetes kenikmatan
dengan pikiran jauh
dari petak-petak kardus
surga abadi mereka usai kemeriahan
dipadamkan waktu
Kutemukan di pelaminan
sepasang wajah bertudung kaleng bekas
berpoles jelaga
bercengkerama dalam keriaan
di tengah ribuan saudara yang nyaris tak tersentuh
asal kolong-kolong jembatan
gaun pengantinnya adalah peraman tikar pandan
bertahun-tahun siam di tong sampah pojok jalan
hingga terasa benar apak dan dekilnya
demi penghayatan terindah peristiwa bersejarah

Jumat, 21 Mei 2010
Curhat Bumi
Memo Hari Ini
Sabtu, 03 April 2010
Kidung Sunyi

Ada yang raib,tiba-tiba
kala malam utus angin
melayangkanku
dan hinggap di dunia maya
Tenanglah,
aku tak akan menahanmu
kesunyian bagiku
lebih indah dari kidung-kidung manis
yang biasa kaudendangkan
Pergilah,
biarkan aku intim dengan liang-liang sunyi
hingga membuahkan anak-anak hening
yang kian tenteramkan hatiku

Kamis, 25 Maret 2010
Sajak Kau-ku

(lelakon...)
Kau,
Datang, dengan hati
melepuh oleh matahari
yang merendah tiba-tiba
musim semi kala itu
baru semaikan
ladang padi yang hijau
sesubur senyum pagi
Aku,
Takjub, oleh luka tak tersamar
di gusar parasmu
matamu lelehkan pekat empedu
tersengal membiru
tapi aku merasa kau
adalah panah surga
melesat secepat kedip girasku
menancap dan tiba-tiba
sukmaku lantang teriak
kaulah kemegahan itu
bagi sunyi yang ganas rampas nafasku
Kita,
Sudikah bila debu
gerus cahaya di depan hingga hablur tatap
tatih langkah bahkan rebah
hilang daya
tidak, sebab kupastikan
rasa itu sekental darah

Minggu, 21 Februari 2010
5 Hari

Lagi, terkapar tak berdaya. Tak kuasa menolak kuasa-Nya. Tak banyak bisa kulakukan hal berharga. Ya, begitu saja. Menatap langit-langit kamar yang semakin kusam disaput masa. Suhu badan lebih dari biasa, sangat tak nyaman terasa. Hehe, jadi aneh kalimat-kalimatku memaksakan diri menata segala yang berakhir "a". Sudahlah, apa adanya saja. Lha?! Hahahaha...! Aku tertawa walau badan sulit bergerak sempurna, sebab virus-virus di dalamnya masih asyik bercengkerama, tak peduli aku yang tengah didera siksa.
Tapi aku akan terus berusaha melawannya, karena kerinduanku kembali bekerja sudah terlalu mendera jiwa dan raga. Sekarang saja aku paksa badan jalan-jalan ke warnet demi melupakan derita. Sekaligus membiasakan diri lagi untuk siap beraktivitas seperti biasa.
Wahai, anak-anakku semua. Rindu ayah kepada kalian sudah seleher tingginya! Mungkin kerinduan yang sama tak pernah kalian rasa? Apakah sebab di kelas selalu ayah memaksa kalian bicara? Sehingga lebih nyaman bila ayah tak ada? Entahlah, hanya kalian yang bisa menjawab ini semua!

Selasa, 16 Februari 2010
Sepatu Pagi Itu
Himne Angkot Biru

Kali kesekian di leleh mentari
aku belajar tersenyum dan berdamai
dengan sebelah hati
meyakini angkot biru yang membawaku pergi
tengah menatapku teduh
seraya pelan bahuku ditepuk-tepuk
menyusul nasehat yang hanya bisa kudengar
dalam bilik batin
"kau bukan yang pertama, telah dan akan
ada berikutnya, lagi
dan lagi, tak habis-habis"
Aku mengangguk entah pada siapa
pastinya harus kubujuk benakku
akan fakta bak sinema
rupiah ongkos pergimu
tak selamanya bermakna hak duduk nyaman
kerap kau harus rela
hanya tulang ekormu tertitip pada kursi
yang sejatinya milikmu
sisa orang-orang di sebelahmu
yang membuai pantat mengangkang lutut
dengan nikmat!

Avontur Perahu

Perahuku masih tenang berselancar
membekal cukup kesadaran
seratus dua ombak
setia mengepung untuk sekali terkam
yang berbuah kandas
di ujung palung
Perahuku masih asyik berdansadansi
seiring surealistik gumam kecipak air
yang menyimpan gahar untuk seletus pekik
pemecah gendang
demi tuli akan merdu orasi lautan
Perahuku masih akrab
berbincang pada hati kecil
sementara gusar camar atas derum mesin
tetap kukuh menjaga ikan
dari ngilu tikam paruh berkilat
Perahuku terus merayap
lentur melantai tak putus kata
sampai nanti
bilah horison menjelma lambailambai
dan deret bibir kering
nan rindu mengecup tiang layar
penuh tulus

Kamis, 04 Februari 2010
Selasa, 02 Februari 2010
Setitik Embun

( kepada pahlawanku )
Buku-buku yang kausemat dalam lusuh tas itu
adalah saksi mati kecintaanmu pada dunia
pagi hari, sementara embun masih malu-malu
telah kaulapangkan jalanmu
menyongsong matahari
bergerak meniti jembatan berbatu
Sedang aku di sini
masih berkelana dalam rimba keengganan
sepanjang waktu
Semburat rona yang membuncah dari parasmu
menyiratkan betapa kau mencintai aku
melebihi hidupmu sendiri
namun selalu aku membantingnya
tanpa perasaan
hingga luruh engkau
dalam kecewa maha dahsyat
Di rumah aku memang remuk tak berbentuk
tapi mestinya tak di sini di depan ketulusan
yang kaupancangkan
mestinya kupahami engkau setulusnya
dari lubuk terdalam hatiku
Akankah ada maaf
setelah semua yang kuhamburkan ini?
Esok
tatkala fajar membuka mata
aku akan datang
meraih tanganmu
untuk kucium sepuasnya
jika itu mampu menghapus segenap dosa kemarin
Di sini
gerbang suatu pagi
aku hanya ingin menangkap senyummu
penuh cinta
dan menyimpannya dalam hati
selamanya

Langganan:
Postingan (Atom)








