Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Mei 2010

Impian-Impian Kecil



(Dimuat di majalah Story edisi 10, April-Mei 2010)

Kepala Fitri tertunduk. Rambutnya yang panjang legam menutupi sebagian wajahnya. Selalu, tatapan lembut ibu meluluhkan hatinya. Fitri hafal kebiasaan ibu. Beliau tak akan beranjak sebelum segalanya menjadi jelas. Perubahan sikap Fitri akhir-akhir ini sudah lebih dari cukup sebagai alasan untuk menginterogasinya. Dan, tiga hari lalu Fitri tak kuasa lagi menutupi kisah yang dipendamnya rapat-rapat. Kini ibu telah tahu semuanya. Tapi naluri seorang ibu tak bisa dibohongi. Kisah yang disimpan putri semata wayangnya itu sesungguhnya belum tuntas.
“Percayalah, Bu. Fitri sudah memaafkannya…,” urai gadis itu sendu.
“Ibu percaya,” tatap ibu dengan senyum. “Tapi salahkah kalau Ibu ingin melihat segalanya kembali seperti dulu? Sudut-sudut rumah kita sepi tanpa dia, kan?”
“Lalu Fitri harus bagaimana lagi, Bu?” gadis itu bingumg.
“Temui dia, Nak. Ketulusan hati berbuat kebaikan semoga membuahkan kebahagiaan lebih buatmu.”
Sesaat Fitri bimbang. Namun senyum lembut ibu tak henti membujuknya.
***

Sabtu, 29 Agustus 2009

Cerpen: Sayur dan Asmara


Oleh Ayah

Cerpen ini dimuat di majalah Aneka Yess! (Edisi dan tanggal terbit lupa karena majalah bukti pemuatan hilang. Adakah pembaca setia Aneka Yess! yang bisa bantu melacaknya?)

Alan…
Biasanya, setiapkali dibangunkan Ibu dari tidur lelapnya di samping gundukan karung-karung plastik berisi sayur mayur nggak pernah ada problem. Setiap ucapan Ibu selalu disimaknya dengan senang hati kendati mata merahnya setengah terkantuk. Tapi sore ini lain. Alan menggerutu ketika dibangunkan. Ibu tentu saja heran melihat gelagat itu.
“Kamu kenapa sih, Al? Sakit?”
Alan menggeleng lesu.
“Lantas?” Tanya Ibu lagi.
“Barusan Alan mimpi.”
Mimpi apa sampai uring-uringan begitu?!”
“Mimpi berantakan!” cetusnya kaku.
“Berantakan bagaimana?” bingung Ibu.
“Ya berantakan. Masa dalam mimpi itu Alan berubah jadi cowok minder, mana di depan cewek lagi. Enak aja! Kapan di alam sadar Alan pernah begitu? Nggak pernah, kan?” gerutunya pada diri sendiri.

Jumat, 28 Agustus 2009

Cerpen Misteri: Saat Kelelawar Terbang Rendah


Oleh Ayah

(Catatan Ayah: Cerpen ini saya kirimkan pada ajang Lomba Cipta Cerpen Remaja (LCCR) Tahun 1995 majalah Anita Cemerlang. Alhamdulillah, masuk daftar 75 Naskah Layak Muat. Dipublikasikan pada Edisi 537, 29 Feb. s.d. 10 Maret 1996. Terima kasih, Anita Cemerlang. Jujur, kepergianmu menorehkan kehilangan yang sangat dalam di hati saya, sebab kala itu saya baru belajar merangkak, belum sampai besar dalam bimbinganmu. Apalagi setelah kau tiada, nyaris tak ada lagi majalah (kumpulan cerita) remaja sehebat kamu dalam membesarkan penulis-penulis pemula. Namun, ini tak menyurutkan semangat saya untuk terus berkarya!
Di majalah Anita Cemerlang pula dipublikasikan CERPEN PERTAMA saya berjudul “Gaung Suara Hati” (Edisi 383 tahun 1991). Hingga majalah ini berhenti terbit, memang hanya 5 cerpen karya saya berhasil dipublikasikan. Namun, lebih dari itu, ada sebuah keberhasilan tertinggi yang saya capai bersama Anita Cemerlang, yakni TUMBUHNYA RASA PERCAYA DIRI mampu turut berkiprah di jagat prosa tanah air, meski saya lahir dan besar di sebuah desa kecil, bernama Kalipare, Kabupaten Malang.
Anita Cemerlang, saya bangga pernah menjadi bagian dari sejarah hidupmu yang melegenda!)



Di luar begitu dingin. Nyala lampu pijar di kanan kiri teras nggak mampu menghapus suasana kelam karena mendung di langit begitu pekat. Sulit diterka kapan hujan bakal turun ke bumi karena seringkali mendung cuma berarak sesaat lalu pergi.
Berdiri menggigil di ambang pintu depan Gilang bertanya-tanya. Ini malam ketujuh binatang kecil itu terbang rendah mengitari kamarnya dengan cericit keras memekakkan. Entah lewat jalan mana lagi ia masuk, padahal setelah dua malam berturut-turut kemunculannya, Gilang telah menyumpal setiap lubang yang ada. Aneh sekali ternyata ia tetap bisa masuk. Apa sih yang dicarinya?
Sekonyong sebuah tepukan hinggap di pundaknya. Gilang tersentak. Menoleh, sekulum senyum menyambutnya. Buru-buru ia buang kembali pandangan ke arah depan dengan dengusan nggak suka.

Minggu, 09 Agustus 2009

Cerpen Misteri: Istana di Atas Air

Cerpen: Ayah

Jantung Mimin berdetak kencang. Hujan makin deras. Air mulai menggenangi dasar perahu. Ia sudah letih mendayung, lelah berteriak minta tolong, tapi perahu bukan menepi, malah ke tengah. Sulit menerka ia berada di bagian mana sekarang. Pandangannya terhalang tirai hujan yang sangat rapat. Malam makin pekat. Mimin pasrah. Sejengkal lagi air hujan mencapai bibir perahu.

Andai tadi aku bisa menahan diri, sesal hatinya. Mimin lari cuma karena persoalan sepele, berebut acara televisi dengan Santi, adiknya. Ayah yang capek seharian menjala ikan merasa terganggu. Sebagai saudara tua Mimin mestinya mau mengalah. Mimin protes kenapa mesti saudara tua terus yang mengalah? Ini nggak adil. Protes Mimin berujung pada bentakan ayah. Mimin lari ke sungai, mengayuh perahu ke tengah sungai.


Air telah mencapai bibir perahu. Mimin tak punya pilihan lain. Daripada mati konyol, lebih baik nekad. Mimin melompat, namun diguyur hujan sekian lama membuat sendi-sendi tubuhnya terkunci. Dalam situasi seperti ini pelajaran berenang dari ayah tak berguna lagi. Apakah ajal telah menjemputku? batinnya sesak. Pada saat kritis, tiba-tiba muncul seberkas cahaya keemasan yang sangat terang. Cahaya yang memancar dari sebuah bangunan megah yang berdiri kokoh di atas air. Mimin sempat melihatnya beberapa detik saja, setelah itu…
***

Selasa, 21 Juli 2009

Cerpen Misteri: Sebilah Kenangan

Oleh Ayah

Halaman plaza Malang. Sesosok gadis berkelebat. Aku mengenalnya. Sangat!
“Titis…!” Aku mengejarnya. Aku harus memastikan dia benar-benar Titis. Teman kecilku!
Titis berlalu seperti angin, lenyap di kerumunan pejalan kaki. Tanpa bekas. Kutatap angkot yang menaikkan penumpang, tak ada Titis di sana. Masuk ke toko terdekat? Juga tak ada. Lantas ke mana perginya Titis?!
“Ngapain kamu lari-lari?!” Bram, adik ibuku muncul dari belakang. Aku biasa memanggilnya Bram saja karena usia kami hanya terpaut empat tahun. Kami sangat akrab.
“Ada Titis.” Napasku masih memburu.
“Mana?!” Bram celingukan.
“Hilang.”
“Hilang?!” Kening Bram berkerut.
“Di belokan ini. Aneh. Padahal jarak aku sama dia dekat sekali.”
“Masak sih?!” bengong Bram, “halusinasi kali kamu.”
“Nggak!”
Aku masih penasaran, tapi sengatan matahari terlalu garang. Kami pulang. Rasa kecewa menimbun dadaku. Akankah liburan kali ini berakhir menyenangkan?
Kekecewaan dimulai sejam setelah kakiku menginjak kota ini tiga hari lalu. Saat itu jam sembilan pagi. Bram mengabarkan: Titis pindah rumah. Aku kaget. Sehari sebelum terbang ke Malang, kami masih bercanda lewat telefon, seperti hari-hari sebelumnya. Tidak membahas rencana pindah rumah atau perpisahan.