Tampilkan postingan dengan label Kisah Lepas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Lepas. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Januari 2010

Elegi Mimpi

( Catatan buat AZ. Kau hebat, Jack! )


Sahabatku...

Aku tahu, mimpi-mimpi yang pernah kauhitung di hadapanku, kini tercabik mengenaskan. Dan kau tenggelam dalam tanya besar, dengan apa harus menisiknya, agar lubang-lubang yang menganga itu terekatkan meski tak akan bisa sesempurna sebelumnya.

Aku juga tahu, kepedihan itu kini milikmu, dan tak akan pernah bisa kaubagi, bahkan kepadaku. Kalau hanya kata-kata, aku pasti telah lama menyatakannya bahwa aku juga merasakan kepedihan itu. Hanya merasa, tanpa bisa ikut memilikinya sebab garis hidup kita berbeda, dan Tuhan mempercayakannya kepadamu.

Kalimat-kalimat puisimu, sahabatku. Benar-benar menyuratkan semuanya...

Mencoba tuk bertahan
meski menyakitkan
mencoba tersenyum
meski dada terasa sesak
mencoba tuk berlari
meski kaki tertancap duri

Itulah yang dialami sang durhaka
ia tetap bersikeras memainkan bass
meski tangan tak lagi bertenaga

Ah, siapalah aku
hanya manusia yang tak mau kalah
meski kaki terpasung
siapalah aku
hanya manusia yang ingin punya legenda
buat buah hatinya kelak
meski itu masih tersirat dalam angan
aku yakin ia pasti bangga
jika ayahnya di masa lalu
adalah orang yang hebat


Kau luar biasa, sahabatku...
Dengan mimpi yang nyaris lumat itu, kau masih sanggup melangkah, walau tak kau tahu akan sampai pada langkah keberapa kau sanggup bertahan. Tentu saja aku berharap mimpi-mimpi itu bisa kautisik dengan baik agar kau tak perlu lagi ragu bahwa kesempatan untuk mempersembahkannya bagi buah hatimu bisa terwujud kelak.

Maafkan jika pada setiap kata yang terangkai dalam percakapan kita selalu ada kepingan luka yang kadang mencair tak terbendung. Kau masih sangat muda. Itu yang membuatku seolah tak rela. Jika mungkin, pasti aku akan memilih bertukar mimpi denganmu, sebab di usia merambat senja aku masih tak meraih sesuatu yang berarti. Kenyataan hidupmu benar-benar menamparku dan menyisakan merah rasa malu. Dengan mimpi-mimpimu yang lebur dalam usiaku kau pasti bisa mengukir sejarah kebanggaan yang bisa jadi melegenda, persembahan terindah untuk buah hatimu.

Memang tak guna tenggelam dalam andai-andai tak berbatas. Kita memang harus menyudahinya, dan segera kembali pada kenyataan.

Aku pasti setuju dengan ketetapan hatimu untuk tak mengingat kepedihan itu. Kita tak pernah mampu membilang waktu. Jadi, jalani saja, mengalir saja. Janjimu untuk bertemu dan menciptakan karya bersama masih akan kutagih. Jangan surut ya!

Di mana pun kau saat ini. Apakah tengah berbaring menahan pedih. Ataukah tengah berjuang mengalahkan rasa nyeri di lain tempat. Aku percaya bahwa kau masih akan penuh tawa. Masih mampu menakar kemampuan menghitung tenaga, sehingga meski kepedihan kadang menyulutkan putus asa, kau pasti tak akan pernah membabi buta.

Mimpi-mimpimu, sahabatku...
Aku yakin akan terwujud dan memberi arti dalam kisah hidup yang nyaris tak kupercaya bisa serupa film-film pemerah airmata. Namun, pasti, bukan airmata yang akan kita perah saat ini, melainkan kebanggaan bisa mengatasi semua kendala dalam tawa...

Sabtu, 16 Januari 2010

Kenangan Hujan


Ingat hujan, aku selalu terlempar ke masa silam kala bocah. Bermain hujan mengitari kampung. Tengadah dan meneguk kesegaran airnya. Tak takut petir walau kerap orangtua berteriak penuh kecemasan melihat kilat menyambar-nyambar. Saling memercikkan ke tubuh teman ketika menemukan kubangan berwarna kecoklatan, lalu tertawa-tawa girang, apalagi saat percikan tepat mengenai sasarn yang dibidik, wajah, misalnya, dan membuat sang korban gelagapan, wah luar biasa senangnya. Selalu aku menantikan hujan dan berharap akan datang lebih cepat agar tak tertinggal momen-momen indah itu.


Tapi itu dulu... saat aku bocah.

Sekarang. Tak kutemukan lagi keasyikan kanak-kanak itu di kampungku. Hujan sepertinya bukan sesuatu yang dinantikan, bahkan cenderung dihindari. Tak ada lagi kecipak langkah-langkah mungil membelah genangan air kecoklatan. Zaman memang berubah. Sering aku mendengar banyak ibu meneriakkan kata "pilek" di belakang kalimat bermakna hujan. Dan entah penyakit apa lagi yang berderet-deret diteriakkan dengan kegemasan. Tak jarang jeweran atau cubitan mampir ketika sang bocah nekad mencuri waktu untuk sejenak menyapa hujan dalam ketelanjangan. Namun, entah kenapa aku tetap saja merasa sangat kehilangan. Tak ada lagi kebandelan bocah menantang jilatan petir. Tak ada lagi perahu-perahu kertas diadu di sepanjang selokan berair deras. Tak ada lagi canda tawa bersahutan membelah riuh suara hujan. Tak ada lagi... Tak ada lagi...

Ah, masa kecil. Beruntung aku pernah menikmati keindahan itu. Meski dalam benak bocah-bocah masa kini tak ada lagi kisah itu, tak apalah. Sekali lagi, zaman memang telah berubah...

Jumat, 28 Agustus 2009

Kebimbangan Koko


Oleh Ayah

Berat, memang, bermain-main dengan rasa. Apalagi ketika semua telah berjalan cukup jauh, sehingga jarak yang kaubutuhkan untuk kembali sama panjangnya dengan jarak yang kauperlukan untuk melanjutkan sisa perjalanan. Kedua-duanya sama-sama berisiko.
Slogan yang telah Ayah dengungkan ribuan kali, mungkin baru sekarang terpikir olehmu kebenarannya. Hidup ini indah. Kalau suatu saat kau merasakannya tidak indah, mungkin ada yang salah dengan caramu menjalaninya.
Kauakui atau tidak, selama ini kau terlalu berani berjudi dengan keputusan. Sungguh berbahaya, apalagi yang kauhadapi adalah hati. Tak ada tempat di dunia ini yang sanggup memulihkannya ketika ia terluka, tidak juga jutaan orang yang dengan ringannya menyampaikan petuah-petuah yang didapat dari buku-buku tebal perpustakaan kampus ternama di jagat raya sekalipun. Andai bisa, petuah-petuah itu hanya akan mengeringkan permukaan luka saja, sementara di dalamnya tetap saja merah dan perih sepanjang hidupnya.

Kalau kau bertanya apakah yang kulakukan selama ini salah? Ayah tak perlu menjawabnya, sebab kau telah menemukan jawabannya lewat kenyataan yang tergambar jelas di depan mata dan tak sanggup kauenyahkan barang sekedip mata.
Lantas, aku harus bagaimana?
Pertanyaan besar itu selalu muncul meski jutaan persoalan yang sama telah terjadi. Bukti bahwa kesanggupan manusia untuk belajar dari masa lalu masih sangat memprihatinkan.
Maaf, Ayah terpaksa menjawab pertanyaanmu dengan pertanyaan juga. Apa yang kauinginkan sekarang? Membiarkan hidupmu berjalan tanpa kepastian? Membiarkan luka itu terus menganga dan bertambah dalam? Jika kau tidak ingin, maka hentikanlah. Memilih mungkin bukan pekerjaan yang mudah bagimu. Namun bertahan dengan mendua hati juga bukan keputusan bijaksana. Menyakitkan, tidak hanya bagimu, tapi juga bagi hati-hati yang lain. Kalau kau berani menghentikan kisah itu sekarang, dan memilih, semoga itu menjadi keputusan terbaik walau pasti tak menyenangkan bagi sebagian hati.
Cinta tak seharusnya mengurungmu dalam kebimbangan. Cinta harus membebaskanmu dari segenap gulita dan memapahmu melangkah menuju terang.
Selamat berjuang. Doa Ayah untukmu selalu!

(Dari curhat Koko, SMA)

Senin, 24 Agustus 2009

Tentang Luka


Oleh Ayah

Maafkan Ayah. Telah Ayah putuskan untuk melanjutkan hidup, tanpa hirau akan sebaris kepedihan yang tertinggal dalam lelah bola matamu. Sejujurnya Ayah iba melihat sorot tua yang mulai berpendaran tanpa bisa kaucegah. Sementara langkah letihmu masih juga terayun menyusuri jalan terjal berbatu, dengan hati tak putus memendam harap, masih akan kautemukan kemilau hari-hari terindah dalam hidupmu, pada sebuah puncak tertinggi dan hanya kau yang akan berdiri di sana.

Sungguh, tak seorangpun ingin kau terluka. Dan harusnya tak perlu ada luka, jika saja kau menyadari bahwa tak setiap harapan yang kita genggam akan berubah menjadi emas. Kerap ia hanya berwujud kepingan jelaga yang menyisakan legam pada setiap buku jemari. Tapi apalah arti semua teriakan yang mengingatkanmu agar tak terlalu kencang berlari, sebab kau telanjur mabuk impian. Hingga seperti inilah jadinya. Kau terluka. Luka yang kini membuat tatapanmu selalu buram. Pun setiapkali menatap Ayah. Sangat pedih dan Ayah bisa merasakannya. Entah dengan apa kau bisa menyembuhkannya. Mungkin akan terasa lebih pedih buatmu sebab kini Ayah telah bisa mengikisnya, dengan sebuah keyakinan bahwa Ayah memang tak perlu menjadi bagian dari luka yang kauciptakan sendiri untuk hidupmu. Ayah bukan siapa-siapa bagimu. Dan memang beginilah seharusnya.

Maafkan Ayah. Selama ini Ayah kerap melontarkan keinginan-keinginan, yang mungkin tak kausadari bahwa itu semua hanya Ayah siapkan untuk bisa lebih mengenalmu. Memastikan bahwa Ayah tak sekadar berprasangka tentang luka itu. Tentu saja, menjadi tak bermakna apa-apa bagi Ayah ketika kau membanting semua keinginan Ayah begitu saja. Ayah malah semakin yakin, sesuatu memang telah terjadi dalam hidupmu. Percayalah, Ayah turut prihatin. Tapi apa yang bisa Ayah lakukan untuk menolongmu? Sementara nyata sekali kau tak berniat menyembuhkan luka itu, bahkan seolah ingin menyempurnakannya. Jika ini pilihan terindah bagimu, bukankah sebaiknya Ayah tak perlu mencegahnya?

Maafkan, Ayah telah menemukan jalan. Langkah Ayah hanya akan bermuara pada satu titik bernama kenyamanan hidup. Dan jalur yang kita tempuh mungkin berbeda. Ayah tak butuh ketinggian untuk sebentuk kebahagiaan. Sebab di sini pun, di tempat landai Ayah telah mendapatkan semua yang ingin Ayah capai.

Maafkan Ayah. Tak hendak berkorban untukmu. Salah dan benar biarlah menemukan tempatnya sendiri. Sekali lagi, Ayah hanya akan melakukan sesuatu yang membuat Ayah nyaman. Dan tak ada yang perlu disesalkan jika pilihan Ayah ini tak membahagiakanmu.

Terima kasih telah kauhadapkan Ayah pada banyak situasi sekusut benang. Satu hal mungkin kau belum tahu. Selama ini tanpa Ayah sadari Ayah justru banyak belajar dari setiap kesulitan yang Ayah hadapi, termasuk dari luka-luka yang kauciptakan. Sekali lagi terima kasih telah kaubuat Ayah semakin tegar dengan itu semua. Semoga kau pun segera menemukan apa yang kaucari. Jika mungkin, tanpa meninggalkan luka lagi bagi siapapun. Namun jika tidak, maafkan Ayah. Ayah hanya bisa menghela napas panjang untukmu…

Wajah Melati

Oleh Ayah

Ah, masih sangat kuingat pesan pendek yang ia kirimkan pada suatu hari tatkala matahari nyaris rebah di pangkuan senja. Aku terhenyak sesaat lalu tersenyum manakala menyadari bahwa serenteng kalimat yang ditulisnya menyiratkan sebentuk perasaan yang tak lagi bisa ditanggung dan butuh tempat untuk menumpahkannya. Saya tidak krasan, Ayah. Hari-hari yang saya jalani benar-benar di luar bayangan saya. Sampai-sampai saya berpikir untuk mengakhirinya, pindah ke sekolah lain. Teman-teman baru saya jauh berbeda dari teman-teman yang saya akrabi tiga tahun sebelumnya. Sebagian malah sangat menyebalkan. Setiap kesempatan hanya mereka pakai untuk membicarakan hal-hal yang tidak berguna. Saat itulah saya tak bisa membendung keinginan untuk lari saja sejauh-jauhnya, bertemu teman-teman lama yang mungkin tengah bergembira di tempat baru mereka. Ingin menjerit rasanya, menangis sepuasnya. Saya kehilangan saat-saat indah dalam hidup saya dalam sekejap mata. La bertemu saat-saat menyebalkan yang entah kapan akan berakhir. Saya capek, Ayah. Saya mau pindah saja. Saya sudah tidak tahan lagi.

Kala itu Ayah memang sengaja tak banyak bicara, Mel. Hanya dua buah kalimat tanya untukmu. Apakah teman-teman barumu di SMP dulu tak ada yang menyebalkan pada awal kenal? Kau menggeleng. Apakah kau tak merasa kehilangan teman-teman SD ketika berpisah dulu? Sekali lagi, kau menggeleng. Kau tahu, kan. Mel arti tepukan tangan Ayah beberapa kali di bahumu setelah itu, sebelum Ayah melanjutkan langkah ke kelas?

Waktu terus bergulir. Hampir dua bulan berlalu. Kelas baru telah berjalan sebagaimana mestinya. Dua hari lalu sekali lagi aku tersenyum. Tentu bukan sesuatu yang ajaib bila akhirnya aku menemukannya tak lagi resah. Melati telah bisa tersenyum. Secepat itukah ia melupakan segala rasa yang ditumpahkannya belasan hari yang lalu? Ya apa mau dikata, memang itulah fakta yang terlihat saat ini. Dua pekan lalu ia masih melangkah gamang di halaman sekolah, dengan atribut MOS digenggamnya tanpa semangat. Langkah-langkahnya terayun sangat berat. Tapi saat ini semua telah berubah. Sorot matanya seolah mengabarkan bahwa semua baik-baik saja akhirnya. Keresahan yang terlukis lewat kalimat sms-nya dulu, kini tak ada lagi. Tentu saja ada kelegaan melimpah ruah melihatnya telah mampu mengatasi persoalannya sendiri. Keadaan itu makin meneguhkan keyakinan dalam diriku, sesungguhnya ia memahami bagaimana melangkah di jalan yang tak sama rata dengan puluhan kilometer yang ditapakinya kemarin.

Makin lapang hatiku saat mendengar ia bertutur tentang keikhlasan hatinya menerima kenyataan bahwa teman-teman dekatnya selama ini kini telah menempuh jalan masing-masing, terpisah ratusan kilometer jauhnya, mengejar segala yang diimpikan sekian lama. Mawar, teman sebangku yang hangat telah pergi, dan bangku kosong di sampingnya kini diisi sosok lain yang memiliki keistimewaan berbeda dan sanggup mengisi pundi-pundi batinnya menjadi lebih kaya. Anggrek, yang selalu lucu kini telah digantikan oleh sosok yang jahil tapi menggemaskan. Belum lagi pengganti Matahari dan Bintang yang tak kalah setia berbagi cahaya keriangan masa remaja. Dunia yang dulu menghampa karena perpisahan, kini berubah menjadi lebih berwarna.

Sebuah kalimat yang akan selalu kukenang, Melati. Kauucapkan dengan sorot mata berbinar. Saya tak jadi pindah, Ayah. Tak ada kata kuucapkan, namun kelegaan yang memenuhi rongga dadaku sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan betapa bangganya aku melihat kedewasaannya menemukan tempat yang tepat untuk tumbuh. Aku bilang tepat, sebab kita memang tak akan pernah tahu tempat mana yang tepat untuk medium tanam benih kedewasaan kita, sebelum kita benar-benar menjejaknya dan mencoba mengakar dengan segenap daya.

Teruslah berjuang, Melati. Perasaan cinta, dan kehilangan, akan selalu datang dan pergi. Begitu pun kebersamaan. Teruskan mencecah tanah. Semoga akar yang kaujulurkan pada setiap detik waktumu benar-benar bisa mencengkeram bumi agar pijakanmu bisa makin kokoh.

Kemarahan Akbar


Oleh Ayah

Akbar, dengan apa kauyakinkan semua orang bahwa kau tak lagi serapuh kemarin? Dengan apa kau yakinkan semua orang bahwa cahayamu tak redup hanya karena di sekelilingmu bertebaran cahaya-cahaya lain yang menyilaukan? Dengan apa kau yakinkan semua orang bahwa harga dirimu sebagai lelaki telah kaubela dengan cara yang tepat, dan meletakkannya di tempat yang layak, tanpa meninggalkan luka bagi siapapun? Dengan apa kau yakinkan semua orang bahwa kau sudah mulai sadar untuk menghormati hidup?

Sadarkah kau bahwa hidupmu, hidup Ayah sangatlah berharga? Tak seorangpun boleh merampasnya. Kalau sampai hari ini kau masih merasa hina, merasa rendah, ini sama artinya dengan membiarkan orang lain merenggut harga dirimu untuk dicampakkan di tempat paling rendah. Sehebat apakah dia sehingga kau merasa tak lebih berharga? Jangan biarkan orang lain seenaknya mengendalikan hidupmu, Tak ada artinya kau meratap-ratap, sementara sosok yang kaupuja tengah bersukaria, tanpa sedetikpun kau ada dalam pikirannya.

Kau mungkin tak banyak tahu kenapa Ayah begitu marah menyikapi persoalan yang tengah kauhadapi. Sepertinya kau menganggap obrolan panjang kita sedikitpun tak ada artinya bagimu. Kau masih saja mencari pembenaran atas sikap-sikapmu, seolah ingin membuktikan bahwa semua langkah yang kauambil adalah yang paling benar, benar di atas pendapat orang lain. Lalu buat apa kau bertanya pada Ayah? Kalau kau yakin dirimu benar, ya sudahlah, lakukan, dan jangan sekali-kali minta pendapat orang lain. Sedikitpun tak terdengar ucapan yang menjelaskan kau ingin menguji apakah pendapatmu mungkin salah. Jadi, terserah, sekarang kau mau menyalahkan siapa lantaran kau terlahir bukan sebagai manusia yang bergelimang kemewahan.

Senin, 13 Juli 2009

Bukan Dongeng



Oleh Ayah

Shinta, Ayah bagi catatan ini buatmu. Bacalah dengan hatimu!

Selanjutnya, inilah curahan hati Rama...

Maaf Shinta. Harus kulakukan ini semua, meski pedih. Sebab aku tak ingin kehidupan meneriakkan caci maki atas ketidakadilan yang kulakukan.
Dongeng tentang Pemuda Sederhana dan Putri Raja memang hanya ada dalam kerajaan khayalan di negeri antah berantah. Di planet yang kita pijak, bumi yang kain hari kian gersang ini, yang ada hanyalah kisah-kisah nyata tentang harta, kasta dan tahta. Putri Raja tetaplah Putri Raja yang bisa leluasa mengangkat jemari tangannya untuk menentukan pilihan. Sedangkan Pemuda Sederhana, suka atau tidak, harus menorehkan kisah-kisah hidupnya pada lembar berbeda. Dan, tentu saja, andai aku Pemuda Sederhana dalam kisah itu, aku pasti dengan lapang hati menyusun kata demi kata untuk kujadikan sebuah kitab yang akan kugenggam erat penuh kebanggaan.
Sebagai Pemuda Sederhana hidupku sangat bermakna, setidaknya buat diriku sendiri.

Namun waktu juga menjelaskan ternyata aku bermakna juga buat setiap orang yang menyayangiku. Sebagai Pemuda Sederhana aku tak pernah merasa lahir percuma ke dunia ini. Kehidupan dengan segala pernik kisahnya telah menempaku menjadi sosok yang tak perlu merasa sebagai garis kecil di tengah carut-marut garis aneka warna dalam kanvas sejarah. Kujalani setiap detik dengan tak henti merasa bahwa aku hidup. Aku tidak perlu merasa mati hanya karena lahir sebagai sebuah noktah yang tak terlihat oleh mata semua orang. Begitu pentingnya diriku bagiku, Shinta. Karena itulah, aku harus tetap hidup. Meski akhir yang kautawarkan sebagai penutup kisah yang kita tulis bersama terasa menyesakkan bahkan nyaris membuatku henti bernapas.
Tapi untunglah, pekik keras yang bertebaran di sekelilingku segera membangunkanku kembali. Aku sadar, hampir saja aku berbuat tak adil kepada hidup.
Ya, Shinta. Aku harus adil kepada hidup. Banyak hal menunggu sentuhanku, dan aku tak akan membiarkan mereka terlalu lama menunggu. Dan aku bisa memastikan sekarang. Bahwa episode yang telah kauciptakan endingnya benar-benar berakhir di sini. Tak mungkinkah menambah satu episode lagi agar ending yang tak menyenangkan itu bisa diperbaiki? Jika pertanyaan itu terlontar, maka dengan ringan akan kujawab. Ini bukan kisah layar kaca, yang harus diciptakan demi memuaskan kesenangan segelintir orang. Ini masalah hati. Biarlah cerita yang tak jelas ujung pangkalnya hanya ada di layar kaca.
Jujur, Shinta. Hingga detik ini pun masih kerap muncul rasa nyeri manakala teringat betapa kekagumanku atas dirimu tak berbuah apa-apa. Tak kaujaga hatiku, tak kauhitung seberapa pedih luka yang tersayat di sana ketika sekelebat bayanganku pun tak lagi ada dalam ruang dan waktumu. Kaubuat aku tak ada lagi di sana, setelah seberkas cahaya menerpa wajahmu dan menyilaukan pandanganmu. Ya, aku kaubuat tak ada. Sementara susah-payah kutempatkan hatimu, kutimang-timang rasamu, sampai sebutir debu pun tak kubiarkan singgah. Aku kaubuat lenyap begitu saja sebab cahaya itu begitu terang memukaumu. Lalu kau terhisap hingga sepotong hati yang sebelumnya kaugenggam erat tercampak begitu saja, jatuh menghantam bumi, dengan luka-luka memerah dan berdarah. Itukah caramu mencintaiku? Tak perlu kaujawab sekarang, sebab cahaya itu mungkin masih menyilaukanmu. Dan jangan juga kaujawab meski seandainya cahaya itu meredup dan tanpa seucap kata menjauh darimu. Jawab saja kelak ketika kau sadar dan menemukan kepastian sesungguhnya aku berharga atau tidak bagimu!
Sekarang biarlah begini adanya. Aku dengan kemesraanku bersama sisi-sisi lain kehidupan yang nyaris kuabaikan. Bagian-bagian yang kusadari kemudian tak kalah berharga dari sisi yang kemarin kulewatkan bersamamu.
Aku tak perlu menganggapmu hantu yang menakutkan dan harus kuhindari. Tidak. Aku tak senaif itu. Ada atau tidak ada kau dalam tiap detik yang kulalui, kubuat tidak lagi penting bagiku. Bicaralah ketika kau ingin bicara. Sama seperti aku menyapamu ketika mata kita bertaut. Aku hanya akan berpikir, barangkali saja episode baru yang tak berkait dengan episode yang lalu itu, sanggup membuahkan kesan yang berbeda. Kesan yang kupastikan tak akan sanggup menggugahku kembali akan geliat kisah masa silam. Selebihnya, kau bergeraklah dengan hatimu. Sedangkan aku, hari ini telah kuayun langkah kesekian untuk melanjutkan hidupku.
Jika aku boleh sedikit berucap padamu. Aku hanya punya sebuah pertanyaan. Cahaya macam apakah yang kaubutuhkan untuk menemanimu melangkah? Kau perlu menentukannya sebelum langkah benar-benar kauayun. Jadikan aku sebagai pelajaran berharga. Belajar tentang hati, rasa dan luka, agar kelak tak perlu lagi ada aku-aku berikutnya. Agar kau tetap teguh bahwa cahaya yang berada di sampingmu tak akan kausirnakan kendati jutaan cahaya lain berebut menyilaukanmu.
Esok kita mungkin masih bertemu. Tapi biarlah setiap sapa dan kata yang terucap. Pun setiap tatap yang beradu hanya cukup sebagai bukti bahwa itu semua berlangsung semata dituntun oleh rasa yang mengalir dari lubuk kedewasaan kita.
Selamat malam, Shinta. Rama menyapamu di tengah kabut yang perlahan disirnakannya dengan sebuah keyakinan bahwa hidup sangatlah berharga. ( Catatan 6 November 2007, Diangkat dari curhat "Rama" )
***
(Untuk kisah yang nyaris sama, Ayah persembahkan Catatan Sederhana ini juga buat Mawar di rumah. Berhentilah menangis, Mawar. Sebab airmatamu terlalu berharga untuk menangisi sepasang mata yang melirikmu pun sekarang enggan. Menangislah, kelak. Ketika kausadari sepasang dari berpasang-pasang mata yang berebut menghampirimu ternyata menawarkan kelembutan yang jauh lebih bermakna daripada sepasang mata yang kini entah di mana. Terakhir ketika Ayah bertemu Mawar dan bertanya apa kabar, dengan senyum sedikit berkabut ia menjawab, sudah lebih baik dari hari kemarin, Yah. Ya, Mawar yang Ayah kenal selama ini memang tak perlu berubah menjadi Mawar yang layu hanya karena merasa tercampakkan. Mawar yang Ayah kenal adalah Mawar yang memiliki begitu banyak hal berharga dan selanjutnya menyadari bahwa mengasah dirinya menjadi lebih berkilau adalah sebuah keputusan bijak bagi hidupnya)

Minggu, 12 Juli 2009

Yang Nyaris Hilang, Mutiara

Oleh Ayah

Tahukah kau, Mutiara. Cerita-cerita miris yang mengalir tanpa henti tentangmu adalah tamparan paling keras yang meremukkan sendi-sendi kebanggaan yang telah Ayah bangun untukmu. Kebanggaan itu, Mutiara, Ayah bangun dengan segenap keyakinan bahwa suatu saat kelak kau pasti mampu mengibarkan bendera kemenangan dan membuat setiap pasang mata yang melihatmu bertepuk girang penuh sanjung untukmu. Namamu akan tergurat jelas di bentang luas cakrawala dan akan dibaca semua orang sepanjang masa. Kenangan manis tentangmu akan senantiasa hidup bersama denyut nadi waktu. Tapi coba kau lihat sekarang, mutiara. Cerita-cerita miris yang bergulir satu demi satu tanpa bisa ditahan itu, telah menggerus tiang-tiang kukuh penopang kebanggaan, dan perlahan ia merapuh. Apa yang terjadi padamu?

Selalu, tanpa henti, Ayah ingatkan kau untuk berjuang agar mata batinmu senantiasa terang tak tertutup oleh segala yang tersaji di sekelilingmu. Selalu, tanpa henti, Ayah berupaya mengalirkan kekuatan agar kau tetap berteguh hati dan tak larut dalam keinginan untuk terus-menerus mengeja nasib yang mengungkungmu. Dan kelak kau bisa menyadari bahwa memang tak perlu berhitung lagi tentang keadilan Tuhan kepadamu. Cinta tak pernah berpaling darimu, Mutiara. Kekecewaan yang kaumanjakanlah yang membuat seolah-olah cinta menjauh dan enggan bercengkerama denganmu. Ini, Mutiara, buah dari luka-luka yang kaubiarkan tertimbun dalam lubuk hatimu. Selama ini kauciptakan kesan seolah-olah semua telah termuntahkan. Tak putus kauukir senyum termanis untuk meyakinkan semua orang bahwa sebutir mutiara ini telah mengilat dan menampakkan pesonanya. Apa yang terjadi padamu, Mutiara? Apakah semua celah dalam hatimu benar-benar telah tertutup rasa putus asa?


Rasanya belum lama ya, Mutiara. Saat kau dan teman-temanmu menyimak cerita Ayah tentang dunia kanak-kanak yang indah. Dunia yang berjalan seiring waktu dan suatu ketika akan pergi meninggalkan kita, sebab di depan telah menunggu dunia yang sama sekali berbeda. Masih tergambar jelas dalam ingatan Ayah binar kedua bola matamu merekam setiap kata yang tercetus dari bibirku. Masih terngiang riang suaramu manakala sekalimat dua kalimat menggelitik simpul saraf tawamu. Ya, kau memang terlihat begitu ingin menikmatinya. Dan itu cukup melegakan Ayah.

Seolah baru kemarin Ayah dengar dari bibirmu cetusan harapan tentang indahnya masa depan. Juga keinginan untuk tetap bersama teman-teman sebab kausadari itu semua adalah bagian yang amat indah untuk terus kaunikmati. Adalah pilihan tepat membuat kemudaanmu tak terbujuk untuk melompati masa yang belum saatnya kaupijak. Toh, perjalanan sang waktu kelak akan mengantarmu juga ke sana.

Tapi sekarang? Suara polos yang semestinya masih membahana telah sirna terberangus badai hitam. Terjebak dalam tubuh mungilmu ruh api yang menjilat-jilat dan menghanguskan kesadaran kanak-kanakmu. Tak sadarkah kau Mutiara, saat ini kau begitu mencemaskan?

Cobalah kauhitung, Mutiara. Berapa banyakkah orang yang mengagumi anugerah kecerdasan dalam balutan parasmu yang menawan itu? Berapa banyak pula orang yang menyebutmu sebagai keajaiban di tengah ribuan kemanjaan di sekitarmu. Dalam dirimu terdapat banyak hal yang tidak dimiliki orang lain bahkan yang berusia lebih darimu. Jika kemarin waktumu selalu kaubawa dalam genggaman erat semata untuk membuktikan bahwa kekaguman mereka amat berharga bagimu. Mengapa sekarang waktumu lebih kerap berlabuh di tempat-tempat yang tak ramah padamu?

Apa yang kaumaknai sebagai kesenangan itu sesungguhnya cuma semu, Mutiara. Lihat teman-temanmu. Apa yang mereka lakukan ketika kau lebih memilih asyik dengan kesenangan di sana? Mereka tengah menikmati keriangan kanak-kanaknya. Mungkin sesekali mereka takut dengan jari telunjuk ayah bunda yang teracung dalam sorot mata tegas. Namun bukankah yang demikian jauh lebih cantik, daripada pilihan yang memaksa jari telunjuk itu tak sekadar teracung, melainkan singgah pada tempat-tempat yang semestinya menerima sentuhan penuh kasih sayang.

Dengar, Mutiara. Dengarlah tak hanya dengan telinga, tetapi juga dengan hatimu, dalam kesadaran yang terbebas dari selubung kabut pekat. Semua yang kaulakukan hingga hari ini adalah sebuah pertaruhan mahal. Jika kekalahan yang kaudapatkan nanti, bukan hanya kau yang merasakan pedihnya, semua orang yang menyayangi dan berharap sesuatu yang terindah darimu, juga akan merasakannya. Dan kenyataan itu akan terbawa selama-lamanya. Tak ada mesin waktu yang akan mengantarmu mengembalikan penyesalan.

Karena itu, Mutiara. Bangkitlah! Akan menjadi kemenangan paling mengesankan sepanjang hidupmu, manakala kau mampu mengangkat dirimu kembali ke dunia kanak-kanak yang telah sekian lama merindukan kehadiranmu. Banyak teman menunggumu di sana, untuk berbagi cerita, tawa canda serta kesenangan-kesenangan polos lainnya. Yakinkan dirimu bahwa kau adalah sebutir mutiara yang warna-wani sinarnya mendamaikan setiap orang yang menyayangimu. Biarkan kebanggaan mereka terhadapmu terus mekar dan berbuah manis.

Masih ada waktu, Mutiara. Kau memang telah kehilangan ribuan menit dalam kesia-siaan. Tapi tataplah ke depan, jutaan menit lainnya siap merangkul dan menyertai ke mana langkah indahmu menuju. Berjuanglah. Sebutir benih yang kini Ayah semaikan dalam hati Ayah adalah kerinduan suatu ketika nanti melihatmu melantunkan baris-barik lirik berikut dengan senyum termanis…

Akulah mutiara itu
dalam relung palung bumi
menghimpun rupa-rupa sinar
agar kelam yang menyesakkan
di atas sana
merengkuh hadirku nanti
penuh kehangatan
inilah janjiku pada hidup

Minggu, 24 Juni 2007, Pk.15.30

Jumat, 10 Juli 2009

Karnaval Hati

Oleh Ayah

Begini aku
demi hanya cinta.
maka ketika mata anak-anakku
berbinar menatap hal tak biasa ini
keyakinanku mekar
ini tak buruk serupa orang lain berkata
sebab buah hatiku tak boleh dibiarkan
sendiri
maaf nak
baru sekarang menyadari

Binar mata kalian
t'lah hanguskan kesombongan bapak

Jumat, 10 Juli 2009, dini hari