Tampilkan postingan dengan label Diari (kejaDIan sehARI-hari). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diari (kejaDIan sehARI-hari). Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 September 2017

Catatan Perjalanan

Di sini aku bermula. Ke sini pula akhirnya aku melepas lelah. Perjalanan panjang yang meninggalkan ribuan jejak meyakinkanku ke mana kata "pulang" mesti kubawa untuk bermukim yang barangkali akan selamanya, dengan sesekali saja bertandang ke tempat-tempat yang jauh namun selalu ingat untuk kembali!

Minggu, 01 Januari 2017

KEMBALI!

Tiga tahun saya tinggalkan Kediaman Sederhana ini untuk mencari hal-hal baru di tempat lain. Hari ini saya jejakkan kaki kembali di sini dengan perasaan tenang. Menjauh dari segala riuh. Siap bercengkerama lagi dengan para sahabat dalam suasana damai sarat rasa persaudaraan. 

Tiga tahun membuktikan bahwa kediaman inilah sesungguhnya tempat paling nyaman bagi saya meniti menit demi menit sisa usia. 

Banyak kisah sederhana siap saya tuliskan untuk melengkapi kisah-kisah lama yang sekian waktu beku tak tersapa. 

Bismillah...

Minggu, 21 Februari 2010

5 Hari



Lagi, terkapar tak berdaya. Tak kuasa menolak kuasa-Nya. Tak banyak bisa kulakukan hal berharga. Ya, begitu saja. Menatap langit-langit kamar yang semakin kusam disaput masa. Suhu badan lebih dari biasa, sangat tak nyaman terasa. Hehe, jadi aneh kalimat-kalimatku memaksakan diri menata segala yang berakhir "a". Sudahlah, apa adanya saja. Lha?! Hahahaha...! Aku tertawa walau badan sulit bergerak sempurna, sebab virus-virus di dalamnya masih asyik bercengkerama, tak peduli aku yang tengah didera siksa.

Tapi aku akan terus berusaha melawannya, karena kerinduanku kembali bekerja sudah terlalu mendera jiwa dan raga. Sekarang saja aku paksa badan jalan-jalan ke warnet demi melupakan derita. Sekaligus membiasakan diri lagi untuk siap beraktivitas seperti biasa.

Wahai, anak-anakku semua. Rindu ayah kepada kalian sudah seleher tingginya! Mungkin kerinduan yang sama tak pernah kalian rasa? Apakah sebab di kelas selalu ayah memaksa kalian bicara? Sehingga lebih nyaman bila ayah tak ada? Entahlah, hanya kalian yang bisa menjawab ini semua!


Sabtu, 30 Januari 2010

BBB: Bank Brankas Bantal



Video spy cam. ATM skimmer. Cyber crime. Walah! Canggih benar! Atau, sebenarnya biasa-biasa saja. Otak saya saja yang ketinggalan kereta. Ya, bolehlah dituduh demikian. Karena memang istilah-istilah tersebut sangat asing di pendengaran dan penglihatan saya. Baru saya ketahui setelah media massa ‘menaikdaunkan’nya terkait kasus fenomenal, pembobolan ATM.

Biarlah Ruby Alamsyah saja yang bicara tentang ‘makhluk-makhluk canggih’ di atas. Beliau adalah pakar forensik digital. Bagaimana PIN bisa terekam?

Menurut Ruby, perekaman PIN dilakukan dengan cara konvensional, yaitu memasang video spy cam (kamera pengintai). Alat itu mengarah ke keypad ATM sehingga ketika nasabah mengetik PIN akan terekam. Kamera pengintai itu diletakkan pada jam-jam ketika ATM dalam kondisi sepi. Sebenarnya, pengguna ATM bisa dengan mudah mengenali kamera pengintai itu. Kamera pengintai milik bank biasanya focus ke wajah, sedang kamera pengintai palsu mengarah ke keypad!

Selain kamera pengintai, penjahat juga memasang alat yang disebut ATM skimmer. Bentuk ATM skimmer sama seperti ATM asli. ATM skimmer itu tertempel di mulut ATM asli. Saat nasabah memasukkan kartu ATM, skimmer akan merekam semua data di kartu ATM. Data tersebut terekam di kartu memori skimmer. Data yang sudah didapat ATM skimmer kemudian digunakan untuk menggandakan ATM. Dengan kartu ATM palsu dan PIN yang sudah dimiliki, penjahat kemudian memanfaatkan untuk bertransaksi di ATM. Karena seolah-olah legal, pihak perbankan biasanya menganggap transaksi tersebut sah.

Untuk menghindari pembobolan via ATM, nasabah harus mengetahui mana tipe ATM skimmer yang asli dan mana yang palsu. Skimmer ATM sdli biasanya kokoh. Tidak bergerak-gerak. Waspadai juga jika di mesin ATM atau alat penggesek kartu kredit/debit ada tempelan tambahan yang bukan berasal dari bank, misalnya nomor pengaduan palsu. Biasanya kalau bukan asli dari bank, ada bekas-bekas perekat, seperti lem, isolasi, atau double tape. (disarikan dari Tabloid Nyata edisi IV Januari 2010).

Saya tak tahu, apakah dengan tidak punya rekening di bank merupakan sebuah keuntungan atau tidak. Intinya, bahwa saya sedang tidak punya uang besar, jelas iya. Tapi kalau kelak Tuhan memberi saya rejeki lebih, masa sih harus saya pakai cara jadul lagi, menyembunyikan uang di bawah bantal? Siapa tahu para penjahat sudah lupa dengan cara usang itu lantaran ingin ikut bercanggih-canggih dan tak mau dianggap penjahat ketinggalan zaman, dengan melakukan cyber crime. Mungkin nggak sih? Hahaha… Anggap sajalah ini pikiran orang yang lagi judeg alias sebel alias geregetan. Bagaimana mau tidak repot ya. Beli brankas pun bisa saja digotong beramai-ramai. Alarm yang tulit-tulit mah kecil banget melumpuhkannya. Jangan-jangan sang penjahat malah mematikan bunyinya sambil bersiul-siul, seolah berkata, “Ah, lebih merdu siulanku!” Nah lho!

Sekarang, terserah saja. Mau pilih yang mana. Nabung di bank, monggo. Beli brankas bergembok raksasa, silakan. Atau, mau yang jadul, menyimpan di bawah bantal, boleh juga.

Mungkin yang penting adalah memantapkan hati, meneguhkan iman, bahwa segala yang ada di dunia ini adalah milik Tuhan. Kalau tiba-tiba raib, lewat cara apa pun, barangkali memang sudah saatnya diambil. Masa sih tidak diikhlaskan, wong yang mengambil yang punya, hayo! Buktinya ketika masih diamanatkan kepada kita, aman-aman saja walaupun tergeletak di lantai, atau bahkan sudah jatuh berhari-hari di jalan masih bisa ditemukan. Setuju, atau tak setuju, monggo mawon…

Eeehmm…, sebentar. Uang di bawah bantal saya masih ada berapa ya?

Rabu, 30 Desember 2009

Sepeda Pancalku Versus Crown Royal Saloon



Delapan ratus juta rupiah! Dapat berapa biji kalau uang sebanyak itu semua dibelikan sepeda merek "Entah Apa" semacam kepunyaanku? Jawabannya, BANYAK! Dijajarkan di Stadion Senayan pasti penuh sesak sampai ke kursi-kursi penonton.

Delapan ratus juta rupiah! Sebagian pasti dari urunan receh ayahku sebagai pajak sepetak tanah yang sudah pasti hanya menghasilkan sekuintal-dua kuintal gabah sisa ribuan gelatik yang superjail. Dan, tentu saja hasil urunan jutaan rakyat negeri tercinta ini.

Delapan ratus juta rupiah! Biaya hidup emak dan bapakku ditambah lima anak serta sepuluh cucu, sejak mereka lahir hingga detik ini pasti belum mencapai bilangan itu. Dan, cling!, bapak-bapak berdasi dan ibu-ibu bersanggul mendapatkannya dalam bentuk mobil supermewah yang konon bikin pengendaranya tidak terganggu pulasnya meski menggasak jalan makadam. Ouw, jadi pengeeen...sebentar saja membuktikan kecanggihannya. Tapi kapan? Malam nanti dalam mimpi? Kalau muncul. Kalau tidak....

Delapan ratus juta rupiah! Delapan ratus juta rupiah! Delapan ratus juta rupiah! Benar memang "cuma" segitu nilai sebiji Crown Royal Saloon? Percaya tak percaya apa gunanya. Wong diduga 1,3 M dibantah. Ya wislah, percaya saja!

Delapan ratus juta rupiah! Ah, kenapa ya, saat mengingat jumlah itu, sepeda pancal yang kukayuh deritnya terasa makin keras menyayat-nyayat gendang telingaku, dan mengalirkan perih ke sekujur tubuhku. Lho, kok tiba-tiba aku jadi mellow?! Ah, tidak benar ini. Lupakan, lupakan, sekarang. Tidak boleh cengeng. Bukankah sebelum jumlah itu kaudengar, kau selalu menikmati derit sepeda pancalmu laksana melodi yang mendamaikan hati? Ayo, teruskan menyehatkan badan dengan terus mengayuh sejauh-jauhnya, teriak hatiku sangat lantang. Lihatlah, bahkan seorang Barrack Obama mau naik becak dengan senyum tersungging manis. Huss! itu bukan Obama betulan! protes sebelah hatiku. Oya?! Jadi?!

Jadi, lupakan Barrack Obama naik becak, lupakan Crown Royal Saloon, lupakan delapan ratus juta rupiah. Lupakan semua sebab itu tidak penting! Lantas apa yang penting? Yang penting adalah lanjutkan perjalanan hidupmu dengan sepeda pancalmu. Jangan kaubuat ia cemburu dengan berselingkuh-pikir dengan hal-hal tak penting di atas. Selesai!

Aku mengangguk-angguk dalam hening. Sekilas kulirik sepeda pancalku. Ia seolah mencibirku dengan senyum sinis melihatku gundah. Baiklah, sepeda pancalku, cintaku, maafkan aku!

Rabu, 23 Desember 2009

Wow, Indah Sekali!!



Oleh Ayah!

Di Lebanon, Hadil, seorang gadis muslim penderita kanker berpose bersama seorang pria yang berdandan ala Sinterklas. Si Sinterklas membawakan Hadil bingkisan dan menghibur gadis yang tengah berjuang melawan penyakit mematikan itu. (Jawa Pos, Sabtu 12 Desember 2009)

Berbahagialah, Hadil. Luka batin yang mencederai masa mudamu memang tak mudah disirnakan hanya dengan hiburan. Juga keganasan yang menggerogoti tubuh mungilmu tak gampang dicerabut hanya dengan sebuah bingkisan. Tapi aku yakin kau pasti bisa merasakan kesejukan yang lahir dari sebuah ketulusan yang tak tersekat oleh apapun. Senyum yang tersemat di bibirmu telah cukup menjelaskannya. Tak kurang sorot luka matamu akibat pedih tak tertanggungkan masih mampu mengirim pendar sukacita kepada dunia. Perhatian itu mungkin tak bisa memperpanjang langkahmu, namun setidaknya akan memperluas cakrawala hidupmu akan indahnya kerukunan, kepedulian, serta kebeningan cinta kasih.

Hadil dan Bapak yang berdandan ala Sinterklas. Semoga kisah kalian ini menjadi inspirasi bagi miliaran hati yang bertebaran di segala penjuru bumi. Kedamaian sesungguhnya bukanlah hal yang sulit untuk diciptakan. Berbagi juga tak harus dengan sesuatu yang tak terjangkau, sebab di dalam diri kita telah tersedia banyak elemen tak kasat mata yang siap dibagi kepada sesama kapanpun kita mau. Jika setiap hati tergerak untuk melakukannya. Berlebihankah kalau kunyatakan bahwa telah lahir sebuah surga yang menakjubkan di atas peradaban yang kian renta ini? Tak ada lagi desing mesiu. Tak ada lagi gelombang angkara murka. Tak ada pula wajah-wajah polos yang tak tahu apa-apa menjerit berdarah-darah. Alangkah indahnya!

Hadil dan Bapak yang berdandan ala Sinterklas. Orang-orang seperti kalian selalu saja menghadirkan kerinduan tak terkatakan di dasar lubuk hatiku!

Sri ‘Kan Di…( apakan Sih?! )



Oleh Ayah!

Maaf, Jeng Sri. Saya kurang tahu apa yang sebenarnya tengah menimpamu. Kata orang, lewat kabar dari televisi, koran, internet, radio, dan sebagainya, Jeng Sri tengah dalam sutuasi sulit, tersudutkan, dan itu pasti menyakitkan. Sekali lagi, maaf, Jeng Sri. Hal apa yang tengah bergelayut dalam hari-harimu kini saya tak banyak tahu. Dan, memang, saya tak berminat untuk mengetahuinya lebih jauh, sebab saya tak suka sama sekali kabar-kabar beraroma konflik atau perseteruan.

Mengapa demikian? Jawabannya, sederhana. Setiap hari saya sudah cukup kenyang (terpaksa) menyantap aneka hidangan konflik di warung kehidupan saya. Oleh karena itu, ketika membaca koran, menonton televisi, atau jalan-jalan ke warnet saya benar-benar tak ingin bersentuhan dengan hal apapun yang bermakna konflik. Saya hanya butuh yang indah-indah, yang manis-manis, dan bisa membuat rasa pahit dalam hidup saya mencair, lalu kembali ke rumah dengan perasaan lapang, meski bisa jadi esok hari akan mengunyah konflik-konflik berikutnya. Tak apalah, toh sebelumnya masih ada kesempatan mencecap rasa manis kehidupan.

Jeng Sri… Perihal diri dan kehidupanmu pun hanya sedikit yang saya ketahui. Namun, percayalah, yang sedikit itu semua adalah hal-hal indah tentangmu. Jeng Sri adalah perempuan hebat, yang terbukti layak disandingkan dengan perempuan-perempuan hebat lainnya di planet bumi ini. Sumbanganmu bagi kemajuan negeri ini pun tak perlu diragukan kualitasnya. Jeng Sri adalah segelintir dari jutaan perempuan yang telah berhasil membuktikan keperkasaan di tengah dominasi lelaki. Jeng Sri benar-benar Srikandi yang tak gentar menghadang rupa-rupa kepengecutan sekaligus kemunafikan yang tak henti-hentinya menampar wajah negeri ini, dengan senjata yang bahkan tak setiap lelaki perkasa memilikinya, yakni kecerdasan dan kejernihan bertutur, di atas kapal besar yang terus-menerus dihajar badai dan sewaktu-waktu bisa karam bersama paras lembutmu.

Sejauh ini semua memang masih samar. Kebenaran dan kesalahan masih tak jelas ditirai kabut tebal nan pekat. Tapi, tenanglah, Jeng Sri. Sekiranya kelak Jeng Sri dinyatakan bersalah, tak sedetikpun waktu saya untuk menyesalinya. Saya percaya di dasar lubuk hatimu tak pernah ada keinginan untuk meremukkan negeri ini. Saya percaya Jeng Sri pasti menganggap negeri ini sama berharganya dengan hidup Jeng Sri sendiri. Sebaliknya, seandainya kebenaranlah yang berpihak kepada Jeng Sri, berhati-hatilah, sebab bukan mustahil keberadaanmu sebagai insan berbudi akan terus diuji.

Selamat berjuang, Jeng! Bagi saya, jika benar semua gading retak, retakan pada sebagian sisi hidupmu memang bukan ornamen yang akan mempercantik tampilanmu. Paling tidak, retakan itu akan menjadi saksi abadi ketidaksempurnaanmu sebagai manusia biasa. Semoga kita semua senantiasa ingat betapa penting menjaga diri, dan tak enggan untuk sering berkaca, agar wajah kita selalu terlihat jelas perubahannya seiring berjalannya waktu.

Selasa, 22 Desember 2009

Ironi Avatar



Oleh Ayah!

12 tahun yang lalu, James Cameron mengguncang dunia dengan karya fenomenal, Titanic. Memang dahsyat. Kali pertama saya menyaksikan sebuah film sampai empat kali namun tak merasa bosan. Dua belas tahun setelah film terdahsyat sepanjang sejarah itu diluncurkan, sosok jenius itu hadir lagi dengan sebuah karya fantastis, Avatar. Saya memang belum sempat menontonnya, tapi saya percaya seorang Cameron tidak akan mempertaruhkan reputasinya untuk sebuah karya ecek-ecek belaka. Dan, lagi-lagi, dunia menjadi saksi bahwa dua belas tahun bukanlah perjalanan yang sia-sia. Memang hebat Mas Bule satu itu, hehehe...

Ya, jelas sangat tidak lucu kalau saya bercerita banyak tentang Avatar, yang belum saya tonton. Kesannya sok tahu banget. Makanya saat ini saya memilih untuk sampai di sini saja bertutur tentang film berbudget "ugal-ugalan" itu. Lantas?
Saya munculkan saja "sok" yang sebenarnya saya rasakan saat ini. Sok merenung. Sok melankolis, dengan mengilas balik masa lalu. Dan entah sok apa lagi.

12 tahun bukan masa yang pendek untuk sebuah perjalanan hidup. Kalau dihitung mundur dari tahun ini, seorang anak manusia yang berkesempatan menghirup udara bebas hingga mencapai bilangan usia belasan tahun itu (dan bersekolah), kurang lebih sekarang ia duduk di bangku kelas enam sekolah dasar, bahkan kelas tujuh SMP.

Menjadi getir terasa ludah di mulut saya mengingat waktu sepanjang itu. Dua belas tahun lalu saya begitu-begitu saja, alias tak ada hal istimewa lahir dari otak saya (yang memang tak seberapa cerdas) ini. Hari ini, dua belas tahun kemudian, saya masih tetap begini-begini saja. Memang kurang bijak sih, membandingkan seorang saya dengan sosok sebrilian James Cameron, tidak nyambung sama sekali. Namun tidak berarti saya harus mengampuni diri sendiri dengan mengatakan, ya sudahlah apa mau dikata, wong kenyataannya saya dan Bang James memang berbeda, lalu selesai. Kalau saya sampai berpikir demikian, bukan mustahil dua belas tahun kemudian status begitu-begitu saja atau begini-begini saja akan tetap tegak menjulang sebagai bangunan berkarat yang amat memalukan. Tentu hal itu tidak boleh terjadi. Terus, apa yang harus saya lakukan agar status tersebut bisa berubah? Sebuah pertanyaan besar yang tidak gampang untuk dijawab, namun juga tak boleh dibiarkan terus berkibar-kibar tanpa kejelasan. Intinya, dua belas tahun kemudian harus ada perubahan yang (walau tidak sedahsyat yang diciptakan Mas Cameron) menjadi sebuah jawaban penting yang membuktikan bahwa waktu sepanjang itu tidak berlalu dalam keberkaratan. Minimal, didorong oleh rasa malu terhadap Mas Cameron, saat ini saya mulai berpikir untuk menata diri agar status di atas berubah menjadi "tidak begitu-begitu saja" atau "tidak begini-begini saja".

Nah, bagaimana dengan Anda?

Rabu, 09 Desember 2009

Headline



Oleh Ayah!

Berapa lama lagi? Melihat halaman utama koran kita hanya berisi kabar yang itu-itu saja. Capek! Jadi, maaf-maaf saja wahai para pembuat koran. Selama kabar yang itu-itu saja itu muncul, saya akan terus asyik membuka-buka halaman lain, mencermati artikel-artikel kecil, menemukan kabar-kabar indah, kabar-kabar menyenangkan, bukan kabar yang membingungkan publik tentang perkara besar yang makin dibesar-besarkan, membuat orang-orang besar makin besar namanya, dan pastinya, membuat rasa malasku yang belasan pekan membesar karena disuguhi sandiwara-sandiwara besar menjadi kian membola sebesar-besarnya, dan mungkin sebentar lagi meledak serupa cendawan raksasa bom atom Hiroshima.


Ehem, untung aku cuma pinjam koran-koran itu. Mau beli dengan uang sendiri eman-eman banget, hehehe! Nanti-nanti saja, kalau kabar-kabar ajaib itu lenyap berganti kabar-kabar indah yang menyejukkan hati nurani. Misalnya, tentang prestasi bangsa kita di kancah internasional, misalnya. Atau, kabar-kabar kemanusiaan yang mengharukan sekaligus membanggakan, tentang jutaan nasib rakyat yang terbela hak-haknya, atau tentang orang-orang besar yang ramai-ramai turun dari langit dan dengan mantap menjejakkan kakinya di bumi untuk bertemu jutaan wajah nestapa yang butuh sentuhan lembut, dan sebagainya.

Ya, sementara uang kutabung dulu sajalah!

Membaca Prita



Oleh Ayah!

Koin cinta. Memang hanya receh. Remah-remah. Kepingan. Namun mampu menjawab dengan sangat jernih sebuah pertanyaan besar tentang rasa keadilan di negeri ini. Untuk siapa keadilan dipersembahkan? Prita telah membuktikan bahwa ia bukan sosok terpilih untuk menerimanya!

204 juta rupiah! Saya, dengan gaji dua ratus ribuan, memandang angka tersebut sangatlah fantastis. Andai saya menjadi Prita, sudah pasti saya juga tak akan sanggup membayarnya. Pendek kata, sudahlah mau diapakan nanti terserah saja, pasrah saja. Putus asa? Andai ada harapan yang bisa membuat hati saya kembali mekar, tentu perasaan tersebut tak perlu tercetuskan.

Prita Mulyasari, tentu tak akan bersikap seperti saya, sebab ia adalah sosok tangguh yang mampu menghadapi persoalan ini dengan sangat kuat. Apalagi di sekelilingnya banyak orang-orang yang tak pernah henti mendukungnya dengan penuh cinta. Dan yang paling membuat perasaan saya tergedor adalah aksi solidaritas Koin Cinta. Posko dibuka di banyak tempat, dengan relawan berganti-ganti setiap hari meluangkan waktu demi Prita. Toples, bekas tempat makanan ringan, hingga celengan berbentuk harimau mengaum ada di sana. Semua berisi uang receh.

Bahkan, seorang bocah enam tahun bernama Anabel La Winson rela menyerahkan celengan miliknya. Simak penuturan polosnya saat menyerahkan tabungannya, “Ini tabungan aku untuk beli kucing. Aku sumbangin aja nggak apa-apa,” kata Anabel yang empat gigi seri atasnya tanggal itu. Sebuah komunitas pemulung juga menghimpun dana hingga mencapai Rp 200 ribu. Mundala, mewakili teman-teman pemulung menyatakan, “Kami ikut prihatin.” (Jawa Pos, Selasa, 8 Desember 2009).

Semua orang tahu, seorang Prita Mulyasari tak pernah memilih cobaan ini. Namun, saya percaya, kelak, ketika cobaan ini berlalu, Prita boleh berbangga telah dipilih tuhan untuk menerima “penghargaan” ini! “Penghargaan” yang semoga tak hanya menjadikannya sebagai pribadi yang kian memesona jutaan hati, lebih dari itu, juga tumbuh sebagai sosok yang memiliki ketangguhan tak tergoyahkan oleh badai apapun. Termasuk badai yang dihembuskan dunia peradilan kita.

Jujur, saya malas bicara tentang peradilan kita. Basi!!!!!

Senin, 23 November 2009

Bencana 2012?! Emang Kenapa Sich?!



Oleh Ayah!

Heboh di mana-mana. Panik. Pontang-panting. Cemas. Gelisah. Marah. Sedih. Nggak rela. Bingung. Linglung. Sebal. Seluruh perasaan yang berjajar di atas, tentu saja muncul dengan alasan yang beragam. Ada yang mikir bagaimana hartaku nantinya. Bagaimana pula dengan istri, suami, ayah, ibu, anak, adik, kakak, kekasih, dan lain-lain, yang saat ini, atau, mungkin, sampai menjelang akhir 2012, masih berada di tempat nun jauh di sana. Cita-cita yang digenggam erat pun mendadak terurai, merasa tiba-tiba sudah berada di ambang kegagalan, dan, jangan-jangan, sudah merasa percuma melanjutkan menggapainya, walaupun faktanya masih tersisa beberapa tahun lagi, kalau bencana itu benar-benar akan terjadi. Kalau tidak?


Mirip kisah dalam film spektakuler Hollywood karya para sineas yang keranjingan teknologi canggih. Dua jempol untuk visual efeknya! Kalau jari tanganku jempol semua, pasti kuacungkan tinggi-tinggi untuk kehebatan mereka meramu gambar seolah nyata! Lengkap dengan sejuta terima kasih lantaran menyadarkan aku bahwa teknologi kita masih jauh di bawah mereka, jadi tidak perlu jadi sombong!
Beberapa teman, ketika mendiskusikan hal isu bencana 2012 denganku, entah kenapa mendadak jadi sewot dan blingsatan mengetahui reaksi yang kuperlihatkan ternyata sama sekali di luar bayangan mereka. Nah! Buntutnya, Anda tebak, kalau mau menebak, mereka mencaci-maki diriku dengan suksesnya. Mau tahu reaksi apa yang kuperlihatkan di hadapan mereka?
Bencana 2012? Oh, pasti dahsyat, jika benar serupa gambaran film 2012! Aku memang belum menonton filmnya secara utuh, baru cuplikannya di internet dalam durasi sekian menitan (saat tulisan ini kuposting, aku sudah punya copy filmnya secara utuh, hanya belum sempat nonton). Keren abis! Jadi pengen nonton seutuhnya! Sungguh! Bukan untuk membayangkan kengeriannya, melainkan hanya ingin, sekali lagi, menjadi saksi pertumbuhan teknologi efek khusus yang dari waktu ke waktu memang sangat mengagumkan. Hanya itu! Tidak lebih! Dan aku tidak mau berandai-andai, nanti begini, nanti begitu. Males. Capek. Pusing. Terserah. Bukan capek, males, dan pusing memikirkan kengerian yang muncul andai bencana itu benar-benar terjadi. Tapi males, capek, pusing lantaran pekerjaan yang harus kuselesaikan setiap hari memang membuahkan deretan perasaan tersebut. Jadi, sudah tidak ada ruang dan waktu dalam hidup saya untuk memikirkan hal itu, apalagi sampai menjadi paranoid dan menghubungkannya dengan ini-itu. Apa sih? Orang cuma film, imajinatif. Dan buatku semata-mata hiburan, dan pastinya aku akan terhibur saat menontonnya, sama seperti ketika dulu aku menonton Deep Impact, Armageddon, Earthquake in New York, atau sederet film bermakna bencana lainnya.

Selanjutnya? Sudah pasti pertanyaan itu kujawab dengan pertanyaan baru, “Selanjutnya apa?” Habisnya bingung ada pertanyaan itu. Mungkin menurut mereka, selanjutnya apa kau tidak ikut-ikutan menjadi paranoid, dan blingsatan, atau, bahkan, merasa hidup jadi sia-sia, toh capek-capek mengisinya dengan segudang impian, akhirnya bakal finish juga pada menjelang akhir 2012. Hehehe, nggak segitunya, Bro! Menyedihkan banget gitu loh!
Hidup ini indah. Mau sisa hidup kita tinggal puluhan bulan, tiga tahun, atau dalam hitungan hari, memangnya kenapa? Mau dunia berakhir, atau bumi hancur, dan seluruh makhluk di dalamnya berkeping-keping, ya biar saja kalau memang sudah waktunya. Kalau aku dipaksa menjawab pertanyaan bermakna “selanjutnya?”, baik, inilah jawabannya. Selanjutnya, setelah mendengar isu spektakuler itu, aku melanjutkan hari-hariku seperti biasa. Tapi, memang, harus ada bedanya. Kalau sebelum isu itu bergulir aku santai-santai saja. Sekarang, lebih serius, lebih bertanggung jawab. Lebih ramah kepada sesama. Kalau kemarin banyak dosa terhadap orang-orang di sekitar tempat tinggal atau di manapun, sekarang mulai banyak menebar kata maaf (dengan setulus-tulusnya, tentu saja), dan setelah itu berusaha tidak berbuat kesalahan lagi. Kalau kemarin ibadahnya asal melunaskan kewajiban, sekarang jadi lebih “menghayati” kedekatan dengan tuhan. Dan sebagainya. Pokoknya semua hal positif yang bisa aku lakukan, sedapat mungkin aku lakukan tanpa harus mikir imbalannya. Siapa tahu, bencana itu benar-benar akan terjadi, aku tidak akan menyesal karena sudah memandfaatkan sisa waktu dengan sebaik-baiknya. Gampang banget! Bakalan mati, ya mati saja, toh banyak temannya! Oke???

Kamis, 22 Oktober 2009

Uuuuuffhh...!


Oleh Ayah!

Menyebalkan! Setengah jam memelototi layar komputer, di warnet pula, tak sepotong karya bermakna, lahir dari otakku yang sedang bebal. Maka kuputuskan untuk menulis ini saja. Terserah ada yang mau baca atau tidak. Seharian aku terbaring tak berdaya di tempat tidur. Terpaksa bolos kerja, hal yang tak biasa aku lakukan. Benar-benar sebuah keterpaksaan yang melahirkan dosa. Aku merasa bersalah, tapi apa mau dikata, badan serasa luluh-lantak. Radang tenggorokan, penyakit yang entah kenapa demikian mencintaiku sehingga tak sedetikpun mau enyah dari hidupku. Beberapa hari jadi bahan tertawaan lantaran suaraku timbul tenggelam serupa lolongan anjing di tengah hujan lebat berangin kencang. Belum cukup ternyata. Pagi tadi lambung ikut melilit-lilit, maag akut sekongkolan untuk ngerjain aku. Kompak banget! Terima kasih. Teruskanlah, biar sempurna penderitaanku. Eh, belum tuntas rasa sebal, kejahilan berikutnya datang. Giliran migren jejingkrakan di kepalaku, tepat ketika bedug Asar ditabuh. Ya, memang salahku sendiri tadi pakai nantang-nantang segala. Borong gratis tuh penyakit!

Itu sih kalau harus bicara dengan emosi meledak-ledak. Sekenanya! Dan tak menghasilkan apa-apa selain sakit yang makin berdenyut di kepala, dan nyeri yang kian melilit perut.

Namun ketika kekesalan mereda, dan pikiran kembali jernih. Aku harus mengakui satu hal: Tuhan tampaknya sedang sayang padaku. Diberinya aku hadiah penyakit agar aku bisa istirahat sejenak dari rutinitas yang sangat padat mencekik leher. Dengan hanya berbaring di tempat tidur, aku bisa merasakan betapa nikmatnya melemaskan otot-otot yang kaku di sekujur tubuh. Sambil berbaring (tapi jangan dicontoh, baca sambil tiduran, kata para pakar kesehatan mata itu berbahaya!) aku bisa menyentuh lagi buku-buku fiksi yang sekian lama kuabaikan lantaran tak tersisa waktu yang cukup untuk memesrainya. Walau tak bisa kupungkiri, kadang pikiran masih meloncat-loncat ke tempat kerja. Setidaknya dengan lebih banyak waktu untuk relaksasi, pikiran bisa istirahat, tidak dihajar melulu dengan segudang program ini-itu yang formal dan menyesakkan. Perkara ada yang harus terbengkalai, ya sudah, sementara biarkan dulu. Besok saja kalau sudah sehat, bisa digas lagi, dengan kecepatan terukur, sebab kalau ngegasnya kebablasan sama juga bo'ong, jangan-jangan efek sampingnya lebih mengerikan. Waduh, amit-amit!

Makan, apa saja, tak ada enaknya sedikitpun. Terang saja namanya juga sakit. Tapi mengingat perut tak boleh kosong, prinsip memaksakan kehendak wajib dilakukan. Butuh waktu dua-tiga kali lipat untuk sepertiga porsi saja, namun tak apa, yang penting sukses masuk perut dan tak kabur kembali ke luar. Lalu, obat, dengan sedikit ngeri tak boleh juga ditawar. Wajar kan orang sakit makan obat. Kalau sehat walafiat berani makan obat, itu namanya bingung, lihatlah, mungkin baju yang dikenakan barangkali posisinya terbalik (walah, logika macam apa itu, nggak nyambung banget kan? Ya, memang itu tadi kata sebagian kecil orang tua zaman sebelum merdeka dulu! Dan pastinya aku tak percaya sama sekali, walau bisa saja seseorang yang sedang bingung baju yang dikenakannya terbalik!) Selebihnya, merenungkan kenapa seseorang bisa sakit. Agar tak jadi sakit harus bagaimana. Setelah sembuh mesti bagaimana. Bla bla bla!

Ah, ternyata capek juga bicara ngalor-ngidul tak karuan. Stop dulu ya daripada diteruskan malah lebih menyebalkan Anda!

Terima kasih buat yang berkenan baca. Buat yang tidak berkenan baca, terima kasih juga. Pokoknya semua kebagian terima kasih, mumpung mengucap terima kasih masih boleh gratisan!

Rabu, 14 Oktober 2009

Gaya Bermotor


Oleh Ayah

Sampai hari ini aku masih melihat pemandangan mengenaskan ini di kampungku! Betapa keselamatan seolah bukan sesuatu yang mahal untuk dijaga. Dua contoh ini cukup untuk bukti. Hanya dua! Faktanya? Tak terhitung, macam-macam gayanya...

1. Tiap hari aku masih melihat sepasang suami-istri, atau sepasang kakak-adik, atau siapalah, kerap menyelipkan seorang bocah (sering balita) di antara mereka berdua DALAM POSISI BERDIRI, tangan mungil sang bocah memegang bahu sosok yang tengah pegang setir di depannya, sedangkan sosok di belakangnya cuma memegang pinggang sang bocah. Dengan kecepatan rata-rata motor yang sedang melaju, aku membayangkan (bukan mendoakan!), andai terjadi sesuatu yang membuat motor itu terpental, pasti sang balita akan terbang lebih dulu. Lalu? Begitulah! Seperti di sinetron-sinetron itulah. Yang bikin aku heran, kenapa hal ini tidak disadari oleh sepasang manusia (yang lebih) dewasa itu? Si bocah sih tahunya ketawa-ketawa senang. Malah belakangan seolah jadi tren mengasyikkan, dan celakanya banyak ditiru. Pak, Bu, Kak, Dik... bocah itu tak akan pernah tahu apa yang bakal terjadi. Tapi kalian tahu, kan?

2. Yang ini lebih aneh! Nyetir motor dengan kecepatan sedang, dengan santainya tangan kiri menempelkan hp ke telinga kiri, ngobrol kadang sambil cekikikan. Tak pakai helm pula. Lagi-lagi aku membayangkan (bukan mendoakan!), andai terjadi sesuatu, alangkah sayang hp itu harus remuk terbanting di aspal. Kok, malah hp yang disayangkan?! Iya sih, soalnya rata-rata hp yang mereka pakai untuk mejeng dengan gaya demikian itu bagus-bagus, sementara aku tak punya yang seperti itu, hehehe... Lha, terus gimana dengan motornya? Ya, maaf-maaf saja kalau soal itu aku tak tahu. Tanya saja mereka, mungkin motor mereka ada beberapa, jadi rusak sebiji masih ada yang lain di rumah. Masuk akal juga sih. Terus, kalau yang rusak badan pengendaranya? Waduh, soal ini aku lebih tak tahu lagi! Setahuku sih di toko-toko tak ada yang jual suku cadang anggota badan yang bisa dibeli sewaktu-waktu dan dipasang dalam tempo singkat pakai mur dan baut! Lha terus?! Embuh!!! Pikir sendiri!


Senin, 28 September 2009

Sisa Libur

Libur panjang selalu menjadi siksaan tersendiri bagiku. Menjemukan. Hidup jadi terasa kurang dinamis. Tinggal dua hari, namun waktu terasa berhenti berdetak. Nggak krasan banget di rumah. Sudah kucoba mengalihkan perhatian dengan beragam kegiatan, tapi tetap saja kerinduan untuk segera bertemu dengan ratusan siswa tak bisa dibendung. Celoteh mereka, keriangan mereka, selalu menjadi pemandangan yang mengasyikkan untuk ditatap setiap saat. Hidup terasa lebih berwarna. Kebandelan sebagian mereka, pun kemanjaan yang tiba-tiba muncul seolah aku sahabat atau orangtuanya, sungguh sangat mengesankan.

Ironis sih, saat mengingat, dulu, sekian tahun lalu, ketika kali pertama tawaran untuk mengajar mampir padaku, aku menanggapi dengan sikap acuh tak acuh. Mengajar?! Jadi guru?! Aku yang selengekan, semaunya, tiba-tiba harus berubah menjadi sosok serius dengan dandanan super rapi. Belum lagi beragam aturan yang pasti akan menyesakkan lantaran sebelumnya aku tak biasa diikat-ikat dengan aturan-aturan baku dalam menjalani hidup. Bisa nggak ya??? Pertanyaan besar itu berakhir pada penolakan tegas. Tidak! Aku belum sanggup berubah menjadi sosok lain. Aku menyebut sosok lain karena saat itu aku merasa -dengan sombongnya- bahwa aku telah menjadi diriku sendiri.

Entah kenapa, dan bagaimana mulanya, tahu-tahu setahun kemudian, kesombonganku runtuh. Tanpa pikir dua kali tawaran langsung kuterima. Lalu, ajaib, hari-hariku berubah total. Anehnya, segala macam aturan yang sebelumnya sempat membuatku ngeri mendadak bisa kucerna begitu saja dengan sangat nyaman. Sempat heran pada diriku sendiri. Kok bisa?!

Waktu kemudian menyadarkanku, dunia baru yang kupijak ternyata lebih indah daripada dunia yang kupijak sebelumnya. Ada ribuan cerita lahir dari jutaan detik yang kulalui bersama ratusan wajah polos. Sangat indah! Keindahan yang tak akan pernah kulepaskan sebab bersama mereka aku belajar banyak hal. Mereka telah mendewasakanku. Mereka telah menyita seluruh kerinduanku saat sepi liburan mendera batinku.

Aku tahu, bagi mereka liburan adalah saat yang paling menyenangkan karena bisa terbebas dari rutinitas yang acapkali menjemukan, setidaknya hal ini pernah kualami ketika dulu jadi siswa. Kalau kami sama-sama berdoa, betapa doa-doa itu akan selalu berbenturan, hehehe... Mereka ingin libur nggak habis-habis agar waktu nyantai tetap panjang. Sementara aku ingin segera masuk sekolah agar bisa segera menjalani rutinitas yang walau -jujur- kadang terasa menjemukan namun jauh lebih banyak menyenangkan.

Ya sudahlah. Biar waktu mengalir sebagaimana adanya. Berharap ada mesin waktu yang bisa mengantar menuju masa depan dengan lebih cepat sangatlah mustahil. Yang demikian hanya ada dalam kisah-kisah fantasi.

Ok, met habiskan libur, anak-anakku. Nikmati. Di sini, Ayah juga tengah berjuang menikmati kejemuan yang terasa tak ada putusnya. Kasihan banget ya!!! Hehehe!!!

Sabtu, 26 September 2009

Ketupat Oh Ketupat!

Lebaran hari ketujuh. Di kampungku pasti ada ketupat dan sayur. Aku paling suka lepet, saudara ketupat dan sayur yang selalu dibuat bareng-bareng, penganan terbuat dari beras ketan yang dibungkus daun pisang atau janur dan diikat kuat-kuat dengan tali lalu direbus sampai matang (kasihan ya, babak belur!). Rasa gurih dan asinnya entah kenapa jadi nyaman di mulut, sederhana tapi memikat. Selalu kurindukan. Tahun ini, seperti beberapa tahun sebelumnya, emakku tidak membuat ketupat cs itu terlalu banyak, ya cukuplah untuk syukuran di mushola dan dihantar ke beberapa kerabat.

Dulu, ketika aku kecil, terasa seperti ada kompetisi ketupat. Setiap rumah membuat dalam jumlah yang cukup besar karena targetnya memang harus cukup untuk dihantar ke rumah tetangga sekampung. Malam hari aku melihat dua meja besar di rumahku penuh sesak dengan ketupat. Lalu bisa dibayangkan kemudian, betapa tragis nasibnya, dimakan sampai perut meletus pun tidak akan habis, sementara penganan macam itu tidak mungkin bisa tahan berhari-hari. Ke mana larinya? Ke kandang ayam! Memang asyik melihat sekawanan ayam berpesta pora ikut merayakan Ketupatan. Namun di sudut hati ada perasaan getir tertinggal, berapa rupiah tersia-sia! Mau dibagi kepada siapa? Lha wong setiap orang juga melihat pemandangan yang sama di rumah masing-masing. Tapi, syukurlah, tahun-tahun berikutnya warga sudah mulai memahami hal ini. Kesepakatan dibuat. Masing-masing keluarga memang masak ketupat, tapi tradisi saling hantar dihapus, yang dipertahankan hanya selamatan di mushola. Maka selamatlah sekian rupiah di kantong!