Senin, 13 Juli 2009

Cerpen Misteri: Ronda ( Bagian II )

Oleh Ayah

Dini hari, menjelang subuh. Pak Hasan pamit pulang, begitu pun Pak Tomo. Sedangkan Pak Juki pilih bertahan sampai terang hari nanti. Wajibnya sih memang sampai pukul empat pagi, selebihnya terserah.
“Kamu Yus?” Jodi menatap Yus yang keasyikan melawan kantuk. “Kepingin pulang juga, tapi nggak berani, kan?” ledeknya.
Pak Juki menangkap gelagat itu. Jalan dari pos ronda ke rumah Yus memang tak seberapa jauh, sekitar duaratus meter. Tapi mereka mesti melintasi kebun tebu. Gelap, sepi, tak ada orang lain. Banyak hal bisa terjadi. Binatang buas kerap muncul. Atau, mungkin, orang jahat yang mengendap-endap dari rerimbun daun tebu. Belum lagi… kehadiran Jodi. Yus bakal jadi bulan-bulanan sepanjang jalan.
“Pulang nggak?” tanya Jodi cuek.
Wajah Yus tampak berkeringat. Bimbang, tapi akhirnya menggeleng, “Aku mau menemani Pak Juki,” kata Yus.
“Sudahlah,” sambung Pak Juki. “Kalian berdua pulang saja. Nanti ada kegiatan ekstra di sekolah, kan? Setelah sholat subuh kalian bisa istirahat dulu beberapa jam.”

“Pak Juki sendirian di sini?” Yus merasa sungkan.
“Tidak apa-apa,” Pak Juki tersenyum, “lagi pula Bapak tidak ada kegiatan, paling-paling ke sawah. Sudah sana pulang.”
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Pak. Assalamualaikum…” Yus pamit.
“Waalaikum salam…”
“Mau diantar, nggak?” tanya Jodi.
“Terserah.”
“Yuk, berangkat,” ajak Jodi. Sementara Pak Juki merapikan kain sarung yang membungkus kakinya, lalu berbaring tanpa bantal.
“Ngantuk berat ya?” kata Jodi, “alot banget melangkah. Baca-baca doa, biar nggak ada aral sampai di rumah.”
Jodi ketawa melihat Yus mengerem langkah.
“Berhentilah menakuti, Jod. Kamu tega lihat aku tersiksa? Mestinya kamu bantu aku membuang rasa takut.” Yus berusaha sabar dengan ulah Jodi.
Dua puluh lima meter lagi kebun tebu bakal menyambutnya. Juga sesuatu yang dahsyat. Bersiap-siaplah!
Suara gesekan daun tebu memecah sunyi. Angin bertiup lumayan kencang. Jodi merapatkan sarung yang membungkus tubuhnya. Melirik ke sebelah, Yus terlihat tegang. Sesekali Jodi menggodanya dengan menyorotkan lampu senter ke wajahnya. Yus membalasnya dengan tonjokan di pundak Jodi. Yang ditonjok malah ngakak. Sampai pada langkah ke sekian. Mendadak Jodi berhenti melangkah. Terasa olehnya tangan Yus
mencengkeram kuat lengannya.
“Ada apa, Jod?” Yus gugup.
“Ssst…diam!” jawab Jodi, menajamkan pendengaran sambil menoleh ke kiri ke kanan. Getaran tubuh Yus yang merapat ke tubuhnya tak ia pedulikan.
Lolong anjing dari kejauhan perlahan mendekat. Jodi mendengar jelas suara itu. Angin yang tadi bergerak lambat mulai mengencang. Jodi mendongak, langit pekat, mendung makin tebal dan siap mengempas bumi. Diam-diam Jodi keder. Belum pernah ia merasakan suasana seperti ini.
“Jo..di..?!” Yus mulai menangis.
“Diam!” bentak Jodi. Rasa takut menyusup tak terelakkan.
“Aku takut,” cetus Yus terbata.
“Aku juga, bodoh!” kesal Jodi.
“Takut apaan?!” Yus pindah ke depan, memeluk tubuh Jodi erat.
“Enyah sana! Ntar kalo ada apa-apa aku kan nggak bisa lari!” gerutu Jodi.
Baru jalan beberapa langkah. Sesuatu menyambar kepala Jodi. Yus menjerit. Jodi terpelanting, senter di tangannya jatuh, untung ia segera menemukannya. Disorotnya dahan pohon mangga di dekatnya Seekor burung hantu hinggap di sana, menatap tajam ke arah Jodi. Yus ambruk ke tanah, pingsan. Jodi mengguncang-guncang tubuh yang tergolek dekat kakinya. Terdengar derap langkah kuda dari kejauhan, makin lama makin dekat. Jodi menyorotkan senter ke jalan di depannya. Tersentak. Seekor kuda putih berbadan besar berlari kencang ke arahnya. Jodi tak punya waktu untuk menghindar apalagi menyelamatkan Yus. Ia hanya meringkuk di tanah seraya menutup kepalanya dengan kedua lengan. Dan, kuda putih itu pun menerjangnya…wuuuss! Aneh, Jodi tidak terjengkang atau memekik kesakitan, melainkan tetap di tempatnya. Yang dirasakannya hanyalah sapuan angin sangat kencang menerpa tubuhnya. Jodi tak percaya. Dengan tangan gemetar disorotnya jalan di belakangnya. Tak ada kuda putih. Hanya lengang jalan dan sisa hembusan angin.
Jodi bangkit, siap berlari. Namun ingat Yus masih tergolek di tanah, ia ragu.
Jika terjadi sesuatu dengan Yus, pasti dirinya yang akan disalahkan. Sedangkan rasa takut sudah mencapai puncaknya. Satu-satunya pilihan ia bopong tubuh Yus dengan langkah tertatih.
Di tengah perjalanan, Yus siuman. Jodi lega.
“Yus, kamu kuat jalan sendiri, kan?” ucap Jodi terbata.
Yus mengangguk. Tapi Jodi merasa perlu memapahnya.
Begitu tampak rumah pertama, Jodi lega. Menit-menit menegangkan lewat, meski rasa takut belum sepenuhnya lenyap, mungkin nanti, setelah tiba di rumah dengan selamat.
Benarkah ketegangan sudah berakhir?
Belum!
Sesuatu yang lebih dahsyat tengah menunggunya. Dan Jodi sama sekali tak menyadarinya.
Tiba di depan rumah Yus, Jodi mengetuk pintu. Lama tak ada yang muncul. Yus menyandar di pagar, lemas dan kelihatan shock. Tiga kali Jodi memanggil ibunya Yus, masih sunyi. Sekali lagi Jodi mengetuk pintu agak keras. Barulah ada langkah mendekat. Pintu berderit. Seraut wajah kusut muncul di ambang pintu.
Jodi menjerit. Serasa disambar petir!
“Y…Yus…?!” desisnya, “k..kamu…Yus?!”
“Kamu kenapa sih?” Yus merinding, “mau nakutin aku lagi?”
“Enggak…Yus…”
“Lantas ngapain gedor-gedor rumah orang? Kamu tau kan kami lagi tidur?”
“Yus…”
“Apa? Kamu ngiri aku berani bolos ronda?”
“Bolos?!”
“Iya, terus kenapa? Pak RT marah? Biarin! Aku lebih suka dihukum, daripada nekat ronda tapi aku merasa nggak tenang semalaman.”
“Kamu…nggak bolos Yus. Kamu ada. Kamu…”
“Udah deh Jod mendingan kamu pulang. Aku masih ngantuk.”
“Tunggu, Yus!”
Yus telanjur mengunci pintu dan kembali ke tempat tidur. Yus tak tahu apa yang sedang terjadi pada Jodi di luar.
Jodi melirik ke pagar, di mana Yus menyandar. Kosong, tak ada siapa-siapa. Tapi Jodi bisa merasakan kehadiran sesuatu di belakangnya, selangkah saja. Hembusan hawa dingin menerpa tengkuknya. Pendengarannya menangkap lenguh kesakitan yang tertahan di kerongkongan. Sesaat ia baru sadar, angin yang bertiup pelan di sekitarnya membawa aroma anyir menyengat.

Tidak ada komentar: