Senin, 13 Juli 2009

Cerpen Misteri: Ronda ( Bagian I )

Oleh Ayah


Yus berdiri tegak di depan cermin. Menangis.
Aku laki-laki! Mestinya aku bisa membuktikan kepada semua orang bahwa aku bukan cowok penakut. Aku berani menghadapi situasi apapun.
Yus kerap menyesali kenyataan dirinya. Ia tumbuh menjadi seperti ini tak lain karena sejak kecil orang-orang di sekelilingnya selalu menciptakan situasi di mana Yus terus-menerus merasa takut. Yus, jangan keluar ada momok. Awas kalau nangis nanti akan didatangi setan pocong. Dan sederet cerita seram lainnya. Tanpa disadari itu semua justru memupuknya menjadi seorang penakut. Apa-apa serba takut.
Malam ini Yus harus menjalankan sebuah tugas. Demi kecintaan kepada ayah ia harus belajar membunuh rasa takut terhadap hal-hal yang belum tentu akan benar-benar terjadi. Juga rasa tanggung jawab sebagai warga kampung. Malam yang sangat berat bagi Yus. Terlebih setelah siang tadi terjadi peristiwa berdarah. Seorang pemuda tewas dalam sebuah kecelakaan di salah satu perempatan tak jauh dari rumah Yus. Sedetikpun Yus tak berani melongok kejadian itu. Sampai muncul desas-desus miring, korban tewas akibat kecelakaan biasanya jadi hantu. Hiiy…bulu kuduk Yus berdiri. Mungkin sudah suratan nasib Yus harus mengemban tugas ronda malam minggu ini menggantikan ayah yang sedang terbaring sakit.


Sialnya, satu dari kelima anggota kelompoknya adalah… Jodi, si tengil yang badungnya minta ampun. Cowok kurus item itu gemar sekali memanfaatkan kepenakutan Yus sebagai bahan lelucon. Yus berdoa semoga Jodi ketiduran atau mendadak jatuh sakit.
“Halo, Yus,” sapa Jodi di ambang pintu. Yus menggeram. Biang reseh itu! Senyum tengil Jodi mengembang, memperlihatkan deretan giginya yang lumayan… kusam, untung kulitnya gelap, sehingga sang gigi tampil relatif cerah.
“Berangkat yuk. Nggak enak nih, Pak RT sudah ada di pos ronda lho,” ajak Jodi.
“Kamu duluan aja, ada yang harus aku selesaikan,” Yus berbohong.
“Bener nih, berani berangkat sendiri?” Jodi meledek, “Jalanan sepi lho.”
“Ala baru juga jam sembilan.” Yus berlagak, padahal hatinya kecut. “Udah sana buruan. Bilang sama Pak RT aku segera datang.”
Sebelum keluar, Jodi sempat pasang tampang seram sambil terkekeh. Yus melotot. Mengangkat asbak di meja, tapi Jodi keburu ngacir.
***
Perempatan tempat insiden berdarah siang tadi. Sunyi. Remang lampu jalan membuat suasana makin seram. Pohon saman berumur puluhan tahun seolah raksasa hitam yang siap menerkam mangsa. Tak ada yang berani seliweran, padahal sebelum terjadi tragedi itu banyak anak muda nongkrong di situ untuk cuci mata. Satu-satunya warung makanan yang biasanya ramai pengunjung, mulai malam ini menyatakan absen entah sampai kapan. Sebagian penduduk di sekitar tempat itu nampaknya termakan isu yang serta merta beredar.
Dari kejauhan terdengar lolongan anjing, baur dengan jerit serangga malam. Di langit mendung pekat menggantung, mungkin hujan mungkin tidak.
Sekilas, dalam sunyi malam, terdengar suara orang merintih kesakitan, tak jelas dari arah mana. Disusul selubung asap putih melayang pelan.
***
Pukul 10 malam. Untung hujan tidak turun. Kalau tidak, suasana pasti tambah seram. Lha wong tanpa isu hantu pun penduduk kampung ini tidak betah melek. Apalagi sekarang. Seperti kuburan.
Di pos ronda berkumpul lima orang, lengkap, ditambah pak RT yang meski terkantuk-kantuk berusaha bertahan memberi semangat warganya yang sedang menjalankan tugas. Figur pemimpin yang baik. Sayang sudah cukup tua. Coba lebih muda, warga kampung pasti rame-rame mencalonkannya sebagai kandidat kepala desa. Hidup pak RT!
Jodi sempat cekikikan melihat Yus meringkuk di salah satu sudut, di samping Pak Hasan yang badannya gede. Bisa ditebak maksudnya, biar kalau nanti terjadi hal-hal yang tak menyenangkan, ada sosok yang bisa diandalkan untuk jadi bodyguard-nya. Kesian deh, wajah imutnya pucat pasi. Untung Jodi lagi asyik main kartu. Tapi jangan keburu girang Yus. Sebentar lagi, batin Jodi. Diam-diam cowok item itu sedang menyiapkan skenario buat Yus. Biar malam tambah malam dululah.
Braaak! Semua terperanjat. Pak RT terjungkal dalam kantuknya, untung keningnya cuma membentur bahu pak Tomo. Lantas dengan bijaksananya pak Hasan angkat bicara, “Sudahlah, Bapak pulang saja. Tidak apa-apa kok. Biar kita berlima yang jaga kampung ini.”
“Sebentar lagi,” ujar pak RT, jaim, “sampai jam duabelas boleh, kan?’ ujarnya sambil menguap tiga kali berturut-turut (kok bisa sih!).
“Santai saja, Pak,” sahut Jodi, “dijamin aman. Nggak bakal deh rudal Amrik nyasar ke sini.” Senyap, tak ada yang tertawa. Rasain!
Merasa gurauannya mentah. Jodi melirik Yus dan melancarkan serangan pembuka. Dipasangnya tampang ketakutan sembari menunjuk-nunjuk ke atas kepala Yus. Kontan Yus memekik, lantas ngumpet di ketiak Pak Hasan. Jodi tersenyum menang. Pak Hasan geleng-geleng kepala.
“Hati-hati lho, Jod. Biasanya orang kalau suka nakut-nakutin, bakal kena batunya,” kata Pak Hasan. Yang dinasehati malah cengengesan. Bertahun-tahun menjalani ’profesi’ itu toh omongan Pak Hasan tak terbukti. Tampang-tampang seram itu cuma bisa ditemuinya di layar kaca.
(Bersambung)

Tidak ada komentar: